Kata Ulang

Uncategorized 5 Comments »

Kata Ulang Kata yang mengalami perulangan kata sebagian atau seluruhnya dan mengakibatkan makna yang berbada-beda.

Macam-Macam Kata Ulang
Kata ulang dibagi menjadi 4 macam, yakni:
1. Kata Ulang Utuh (K.U. Dwilingga), yakni perulangan kata yang dialami oleh seluruh kata dasar.
Contoh:
a. anak-anak
b. rumah-rumah
2. Kata Ulang Sebagian (K.U. Dwipurwa), yakni perulangan kata yang dialami oleh sebagian dari kata dasar.
Contoh:
a. pepohonan
b. tetangga
3. Kata Ulang Berimbuhan, yakni perulangan kata yang melibatkan morfem terikat (afiks)
a. kejar-kejaran
b. mobil-mobilan
4. Kata Ulang Salin Suara (K.U. Dwilingga Salin Suara), yakni perulangan kata yang dialami oleh seluruh kata dasar namun mengalami perubahan fonem pada salah satu kata dasarnya.
Contoh:
Perubahan fonem vokal
a. mondar-mandir
b. gerak-gerik
Perubahan fonem konsonan
a. sayur-mayur
b. lauk-pauk

Catatan: kata-kata berikut tidak termasuk kata ulang dalam bahasa Indonesia karena tidak sesuai dengan pengertian kata ulang itu sendiri. Maka kata-kata berikut dinamakan Kata Ulang Semu.
Contoh: a. tiba-tiba
b. kura-kura
c. pura-pura
d. lumba-lumba, dll.

Makna Kata Ulang Dalam Bahasa Indonesia

Macam-macam makna atau nosi kata ulang, di antaranya sebagai berikut.
1. Kata ulang yang menyatakan `banyak tidak menentu`.
Contoh:
- Di tempat kakek, terdapat pepohonan yang rimbun dan lebat sekali.
- Pulau-pulau yang ada di dekat perbatasan dengan negara lain perlu diperhatikan oleh pemerintah.
2. Kata ulang yang menyatakan `sangat`.
Contoh:
- Jambu merah Pak Alex besar-besar dan memiliki kenikmatan yang tinggi.
- Anak kelas IX orangnya malas-malas dan sangat tidak koperatif.

3. Kata ulang yang menyatakan `paling`.
Contoh:
- Setinggi-tingginya Agus naik pohon, pasti dia akan turun juga.
- Zambada dan Edowa mencari kecu sebanyak-banyaknya untuk makanan ikan cupang kesayangannya.

4. Kata ulang yang menyatakan `mirip` / `menyerupai` / `tiruan`.
Contoh:
- Marcel membuat kapal-kapalan dari kertas yang dibuang Pak Mulyanto tadi pagi.
- Ricky main rumah-rumahan bersama Rexy seharian di halaman rumah.

5. Kata ulang yang menyatakan `saling` atau `berbalasan`(resiprok).
Contoh:
- Ketika mereka berpacaran selalu saja cubit-cubitan sambil tertawa.
- Saat lebaran biasanya keluarga di RT IV kunjung-kunjungan satu sama lain.

6. Kata ulang yang menyatakan `bertambah` atau `makin`.
Contoh:
- Biarkan dia main hujan! Lama-lama dia akan bosan juga.
- Ayah meluap-luap emosinya ketika tahu dirinya masuk perangkap penipu kartu kredit.

7. Kata ulang yang menyatakan `waktu` atau `masa`.
Contoh:
- Orang katro dan ndeso itu datang ke rumahku malam-malam.
- Datang-datang dia langsung tidur di kamar karena kecapekan.

8. Kata ulang yang menyatakan `berusaha` atau `penyebab`.
Contoh:
- Setelah kejadian itu dia menguat-nguatkan diri mencoba untuk tabah.

9. Kata ulang yang menyatakan `terus-menerus`
Contoh:
- Anjing buduk dan rabies itu suka mengejar-ngejar anak kecil yang lewat di dekat kandangnya yang bau.
- Lina selalu bertanya-tanya pada dirinya apakah kesalahannya pada Hany dapat termaafkan.

10. Kata ulang yang menyatakan `agak` (melemahkan arti).
Contoh:
- Karena berjalan sangat jauh kaki Putra sakit-sakit semua.
- Jangan tergesa-gesa begitu dong, nanti jatuh!

11. Kata ulang yang menyatakan `beberapa`.
Contoh:
- Sudah bertahun-tahun nenek tua itu tidak bertemu dengan anak perempuannya yang pergi ke Hongkong.
- Mas Agung berminggu-minggu tidak apel ke rumahku. Ada apa ya?

12. Kata ulang yang menyatakan `sifat` atau `agak`.
Contoh:
- Lagak si bencong itu kebarat-baratan kayak dakocan.
- Wajahnya terlihat kemerah-merahan ketika pujaan hatinya menyapa dirinya.

13. Kata ulang yang menyatakan `himpunan pada kata bilangan`.
Contoh:
- Coba kamu masukkan gundu bopak itu seratus-seratus ke dalam tiap plastik!
- Jangan beli makanan banyak-banyak, Nak, nanti uang sakumu habis!

14. Kata ulang yang menyatakan `bersenang-senang` atau `santai`
Contoh:
- Dari tadi padi Filo kerjanya cuma tidur-tiduran di sofa.
- Ular naga panjangnya bukan kepalang berjalan-jalan selalu riang kemari.

Kalimat Langsung dan Kalimat Tak Langsung

Uncategorized  Tagged , , 2 Comments »

KALIMAT LANGSUNG adalah kalimat yang secara cermat menirukan ucapan atau ujaran orang lain, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Bentuk dari kalimat langsung dapat berupa kalimat berita, kalimat tanya, kalimat perintah, ataupun kalimat seru.

KALIMAT TAK LANGSUNG adalah kalimat yang melaporkan/memberitahukan ucapan atau ujaran orang lain. Bentuk dari kalimat tidak langsung hanya berupa kalimat berita.

PERBEDAAN KALIMAT LANGSUNG DAN KALIMAT TAK LANGSUNG

1. Kalimat langsung bertanda kutip (“…”) sedangkan kalimat tak langsung tidak bertanda kutip.
2. Pada kalimat langsung, intonasi bagian yang dikutip lebih tinggi dibandingkan yang tidak, sedangkan pada kalimat tak langsung intonasi mendatar dan menurun.
3. Pada kalimat langsung, kata ganti pada kalimat yang dikutip tidak mengalami perubahan, sedangkan pada kalimat tak langsung kata ganti pada kalimat yang dikutip mengalami perubahan.
4. Susunan kalimat langsung tetap, tidak berkata tugas, sedangkan pada kalimat tak langsung berkata tugas, seperti bahwa, sebab, untuk, supaya, dll.
5. Kalimat langsung berbentuk kalimat berita, kalimat tanya, kalimat perintah, dan kalimat seru sedangkan pada kalimat tak langsung hanya berupa kalimat berita.

PENGGUNAAN KATA GANTI (PRONOMINA) PADA KALIMAT LANGSUNG DAN KALIMAT TAK LANGSUNG

Kalimat Langsung > Kalimat Tak Langsung
kamu > saya, aku
engkau > saya, aku
aku, saya > dia, ia
-ku > -nya
kita > mereka

PENGGUNAAN KATA TUGAS PADA KALIMAT LANGSUNG DAN KALIMAT TAK LANGSUNG

Kalimat Langsung > Kalimat Tak Langsung
siapa > tentang nama / pelaku
apa (-kah) > tentang sesuatu / benda
Kapan, bilamana > waktu
di mana, ke mana > tempat
mengapa > sebab
Berapa, ke berapa > jumlah, urutan
mana > pilihan
bagaimana > cara
jangan > untuk tidak
-lah > untuk / supaya / agar
(berupa kalimat berita) > bahwa

Karangan

Uncategorized  Tagged 1 Comment »

KARANGAN

Karangan adalah hasil tulisan yang mengungkapkan ide, perasaan, atau pemikiran pengarang dalam satu kesatuan tema yang utuh. Karangan dibagi menjadi beberapa macam, yakni:
(1) Deskripsi disebut juga lukisan, yaitu salah satu bentuk karangan yang menggambarkan suatu keadaan, kejadian, atau peristiwa sejelas mungkin sehingga pembaca mendapat kesan seperti melihat sendiri sesuatu yang digambarkan itu.
Contoh:
Lingkungan sekolah kami sangatlah nyaman. Dengan luas 1 ha, berbagai fasilitas sekolah tersedia demi kemajuan proses belajar kami. Di sekitar halaman sekolah, terdapat berbagai jenis tanaman hias yang kami tanam sendiri. Ada pula kantin yang bersih dan luas agar suasana istirahat kami dapat kami gunakan sebaik-baiknya untuk menghilangkan kejenuhan. Dan, tersedia pula lapangan olahraga yang sangat luas sehingga dapat membantu kami untuk meningkatkan keterampilan berolahraga dan mengekspresikan diri.
(2) Eksposisi ialah salah satu bentuk wacana atau karangan yang bermaksud menjelaskan, mengembangkan, atau menerangkan suatu gagasan. Tujuannya untuk menambah pengetahuan pembaca tanpa berusaha untuk mengubah pendirian atau mempengaruhi sikap pembaca.
Contoh:
Kantor Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah yang representatif, kini mulai dibangun di Palu, setelah tertunda dua tahun. Pembangunan kantor di Jalan Sam Ratulangi Palu Timur itu, direncanakan rampung 2 – 3 tahun mendatang, dengan biaya sekitar Rp 10 milyar. Demikian keterangan Sekwilda Sulteng, Amur Muchasim, S.H., Rabu (4/10) di Palu la menjelaskan, untuk tahap pertama, seta bangunan sayap dapat dirampungkan Februari 1996.
(3) Persuasi ialah bentuk wacana yang tujuannya adalah meyakinkan, mengajak atau membangkitkan suatu tindakan dengan mengemukakan alasan-alasan yang kadang-kadang agak emosional. Jika argumentasi berusaha membuktikan kebenaran atau pernyataan melalui proses penalaran yang sehat, persuasi berusaha merebut perhatian dan membangkitkan tindakan terhadap pembacanya.
Contoh:
Semua orang tahu bahwa kebersihan adalah pangkal kesehatan. Namun demikian, masih banyak anggota masyarakat kita yang tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan. Inilah masalah yang sulit dipecahkan. Seandainya saja setiap anggota masyarakat peduli akan kebersihan di sekitar tempat tinggalnnya tentulah kualitas kesehatan dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, marilah kita mencoba untuk menjadikan diri kita masing-masing peduli terhadap kebersihan lingkungan. Kesadaran ini dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk, diantaranya ialah tidak membuang sampah sembarangan.
(4) Argumentasi adalah sebuah wacana yang berusaha meyakinkan atau membuktikan kebenaran suatu pernyataan, pendapat, sikap, atau keyakinan. Dalam Argumentasi ini, suatu gagasan atau pernyataan dikemukakan dengan alasan yang kuat dan meyakinkan sehingga orang yang membacanya akan terpengaruh untuk membenarkan pernyataan, pendapat, dan sikap yang diajukan.
Contoh:
“Amin memang murid yang baik. Setiap hari la datang ke sekolah selalu lebih awal dari teman-temannya. Semua pekerjaan rumah tidak ada yang tidak diselesaikannya. Kepada gurunya dan orang tua ia selalu bersikap hormat. Bahwa prestasi belajarnya juga jauh lebih baik dari teman-temannya dapat dilihat dalam rapornya yang tidak pernah ada angka merah, Tak ayal lagi ia akan menjadi mahasiswa yang baik.”
(5) Narasi adalah sejenis karangan atau cerita yang isinya mengisahkan atau menggambarkan suatu kejadian atau peristiwa menurut urutan waktu atau secara kronologis. Kejadian yang dikisahkan dapat bersifat khayal atau faktual, atau gabungan dari keduanya. Narasi ini sering dimasukkan ke dalam golongan karangan fiktif, jadi tercakup di dalamnya ialah roman, novel, cerpen, hikayat, tambo, dan dongeng.
Contoh:
“Beratus-ratus tahun Indonesia telah dijajah Belanda. Perang Dunia II pecah, dan Belanda di Indonesia kemudian ditaklukkan oleh Jepang, kini Jepanglah yang menguasai dan mengangkangi Indonesia. Ini tidak lama memang, karena Sekutu dapat mengalahkan Jepang dengan dibomnya Hiroshima dengan bom atom. Kesempatan baik ini tidak disia-siakan oleh bangsa Indonesia umuk memproklamirkan kemerdekaannya. Proklamasi itu dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hata, pada tangga 17 Agustus 1945.”

Perbandingan karangan eksposisi dengan argumentasi
a. Persamaan:
1) Sama-sama menjelaskan pendapat dan keyakinan penulis.
2) Sama-sama memerlukan fakta yang diperkuat atau diperjelas dengan angka, peta, statistik, grafik, gambar, dan lain-lain.
3) Sama-sama memerlukan analisis dan sintesis pada waktu mengupas sesuatu.
4) Sama-sama menggali sumber ide melalui:
- pengalaman
- pengamatan dan penelitian
- sikap dan keyakinan
- daya khayal tidak digunakan
b. Perbedaan:
1) Tujuan paparan hanya menjelaskan dan menerangkan, sehingga pembaca memperoleh informasi yang sejelas-jelasnya. Sedangkan argumentasi bertujuan mempengaruhi pembaca, sehingga pembaca akhirnya menyetujui bahwa pendapat, keyakinan, dan sikap penulis benar.
2) Grafik, statistik, dan lain-lain pada paparan untuk menjelaskan. Sedangkan grafik, statistik dan lain-lain pada argumentasi untuk membuktikan.
3) Pendahuluan pada paparan memperkenalkan topik dan tujuan yang akan dipaparkan. Sedangkan pendahuluan atau pembuka pada argumentasi berisi latar belakang dan sejarah persoalan, sistematika yang digunakan, pengertian persoalan, sera tujuan argumentasi.
4) Penutup pada akhir paparan biasanya manegaskan lagi apa yang telah diuraikan sebelumnya. Sedangkan pada akhir argumentasi biasanya menyimpulkan apa yang telah diuraikan sebelumnya.

Biasanya karangan dibedakan atas karangan fiktif dan karangan faktual. Yang pertama disebut fiksi, sedang yang kedua dinamakan nonfiksi. Fiksi umumnya hanya mengetengahkan hasil rekaan atau imajinasi atau khayal pengarang. Imajinasi tersebut sering pula didasarkan pada peristiwa sehari-hari sehingga ada kemungkinan dapat terjadi. Sebaliknya karangan nonfiksi menyajikan peristiwa secara apa adanya atau secara objektif. Bahasa fiksi biasanya bersifat konotatif dan subjektif, bahasa nonfiksi cenderung objektif dan denotatif.

Termasuk karangan fiktif ialah roman, novel, cerpen, kisah perjalanan, legenda, fabel, mite, dan hikayat. Sedang contoh karangan nonfiktif dapat kita kemukakan misalnya, resensi, skripsi, tesis, desertasi, laporan, paper atau makalah, yang semuanya termasuk karangan ilmiah
Yang dimaksud karangan ilmiah ialah karangan yang mengungkapkan buah pikiran hasil pengamatan, penelitian, atau peninjauan terhadap sesuatu yang disusun menurut metode dan sistematika tertentu, dan yang isi serta kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan.

Ciri-ciri Karangan Ilmiah:
(1) logis, maksudnya semua keterangan yang diketengahkan mempunyai alasan yang dapat diterima akal
(2) sistematis, yaitu semua yang dipaparkan disusun dalam urutan yang berkesinambungan
(3) objektif atau faktual, artinya keterangan yang dikemukakan didasarkan pada apa yang benar-benar ada atau sesuai dengan fakta
(4) teruji, artinya keterangan yang diberikan dapat diuji kebenarannya, dan ;
(5) bahasanya bersifat lugas atau denotatif.
Syarat-syarat Karangan Ilmiah:
(1) mengandung masalah serta pemecahannya
(2) masalah harus merangsang atau menarik perhatian pembaca
(3) lengkap dan tuntas, artinya membeberkan semua segi yang berkaitan dengan masalahnya
(4) disusun menurut sistem tertentu dan metode tertentu sehingga mudah dimengerti dan dipahami.
Yang tergolong karangan ilmiah antara lain:
(1) Laporan ialah bentuk karangan yang berisi rekaman kegiatan tentang suatu yang sedang dikerjakan, digarap, diteliti, atau diamati, dan mengandung saran-saran untuk dilaksanakan. Laporan ini disampaikan dengan cara seobjektif mungkin.
(2) Makalah ditulis oleh siswa atau mahasiswa sehubungan dengan tugas dalam bidang studi tertentu. Makalah dapat berupa hasil pembahasan buku atau hasil suatu pengamatan.
(3) Kertas kerja adalah karangan yang berisi prasaran, usulan, atau pendapat yang berkaitan dengan pembahasan suatu pokok persoalan, untuk dibacakan dalam rapat kerja, seminar, simposium, dan sebagainya.
(4) Skripsi, karya tulis yang diajukan untuk mencapai gelar sarjana atau sarjana muda. Skripsi ditulis berdasarkan studi pustaka atau penelitian bacaan, penyelidikan, observasi, atau penelitian lapangan sebagai prasyarat akademis yang harus ditempuh, dipertahankan dan dipertanggungjawabkan oleh penyusun dalam sidang ujian.
(5) Tesis mempunyai tingkat pembahasan lebih dalam daripada skripsi. Pernyataan-pernyataan dan teori dalam tesis didukung oleh argumen-argumen yang lebih kuat, jika dibandingkan dengan skripsi. Tesis ditulis dengan bimbingan seorang dosen senior yang bertanngungjawab dalam bidang studi tertentu.
(6) Disertasi ialah karangan yang diajukan untuk mencapai gelar doktor, yaitu gelar tertinggi yang diberikan oleh suatu univesitas. Penulisan desertasi ini di bawah bimbingan promotor atau dosen yang berpangkat profesor, dan isinya pembahasan masalah yang lebih kompleks dan lebih mendalam daripada persoalan dalam tesis.
(7) Resensi ialah karya tulis yang berisi hasil penimbangan, pengulasan, atau penilaian sebuah buku. Resensi yang disebut juga timbangan buku atau book review sering disampaikan kepada sidang pembaca melalui surat kabar atau majalah. Tujuan resensi ialah memberi pertimbangan den penilaian secara objektif, sehingga masyrakat mengetahui apakah buku yang diulas tersebut patut dibaca ataukah tidak.
(8) Kritik dari bahasa Yunani kritikos yang berarti `hakim’. Kritik sebagai bentuk karangan berisi penilaian baik-buruknya suatu karya secara objektif. Kritik tidak hanya mencari kesalahan atau cacat suatu karya, tetapi juga menampilkan kelebihan atau keunggulan karya itu seperti adanya.
(9) Esai adalah semacam kritik yang lebih bersifat subjektif. Maksudnya apa yang dikemukakan dalam esai lebih merupakan pendapat pribadi penulisnya. (E.T.)

Kata Jadian

Uncategorized  Tagged No Comments »

KATA JADIAN

Kata Jadian adalah kata yang telah mengalami gramatikalisasi. Gramatikalisasi dibagi menjadi 3 macam, yakni:

1. Proses Imbuhan (Afiksasi)
 Kata dasar (morfem bebas) yang dilekatkan dengan afiks (morfem terikat) sehingga membentuk makna kata yang baru.
Contoh: per + tani + an  pertanian
Afiks `per-` dan `-an` adalah contoh morfem terikat, sedangkan kata `tani` adalah contoh morfem bebas.

Afiksasi dalam bahasa Indonesia dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
a. Awalan (prefiks)  afiks yang melekat di depan morfem bebas.
Macam-macam prefiks: ber-, me(N)-, di-, pe(N)-, per, se-, memper-, diper-, pra-, manca-, antar-, adi-, dan lain-lain.
Contoh kata: bermain, membaca, dipukul, pengarang, perlindungan, semacam, dll.

b. Sisipan (infiks)  afiks yang melekat di antara morfem bebas.
Macam-macam infiks: -el-, -er-, dan -em-.
Contoh kata: bergerigi (morfem bebasnya `gigi`), bergelembung (morfem bebasnya `gembung`), dll.

c. Akhiran (sufiks)  afiks yang melekat di belakang morfem bebas.
Macam-macam sufiks: -an, -kan, -i, -wati, -wan, -man, -logi, -sasi, -if, -is, -iah, dan lain-lain.
Contoh kata: mainan, ambilkan, sirami, karyawati, seniman, egois, alamiah, dll.

2. Proses Pengulangan Kata (Reduplikasi)
 Kata dasar yang mengalami perulangan sehingga membentuk makna yang berbeda-beda.

Reduplikasi dibagi menjadi 4 jenis, yaitu:
a. Kata ulang utuh (dwilingga)  jenis kata ulang yang terjadi pada seluruh kata dasar.
Contoh kata: rumah-rumah, anak-anak, murid-murid, dll.

b. Kata ulang utuh berubah bunyi (dwilingga salin suara)  bentuk perulangannya terjadi pada seluruh kata dasar tetapi terdapat fonem (huruf) yang berubah.
Contoh kata: gerak-gerik, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, dll.

c. Kata ulang sebagian (dwipurwa)  bentuk perulangannya terjadi pada suku awal kata dasar.
Contoh kata: lelaki, tetangga, sesuatu, leluhur, tetamu, dll.

d. Kata ulang berimbuhan  bentuk perulangannya mendapat imbuhan (afiks).
Contoh kata: bermain-main, bersalam-salaman, tembak-menembak, rumah-rumahan, dll.

Catatan: kata kura-kura, ubur-ubur, cumi-cumi, tiba-tiba, lumba-lumba, atau kata lainnya yang menggunakan tanda hubung (-) dan memiliki makna oleh kata itu sendiri dinamakan kata ulang semu. Dan jenis ini tidak masuk ke dalam jenis kata ulang karena definisi kata ulang semu tidak sama dengan kata ulang (reduplikasi) sesuai dengan KBBI.

3. Permajemukan (Kata Majemuk)
 Gabungan dua kata atau lebih yang berstatus sebagai kata yang berdiri sendiri sesuai dengan kata yang digabungkan. Kata majemuk juga bisa disebut sebagai frasa.

Kata majemuk dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
a. Kata majemuk setara  memiliki kedudukan kelas kata yang sama.
Contoh kata: kursi tamu, hancur lebur, majalah wanita, dll.
KB KB KK KK KB KB

b. Kata majemuk bertingkat (tak setara)  memiliki kedudukan kelas kata yang berbeda.
Contoh kata: gadis belia, meja makan, siswa teladan, delapan ekor, dll.
KB KS KB KK KB KS K Bil. KB

c. Kata Idiomatis atau ungkapan  memiliki makna yang baru.
Contoh kata: panjang tangan >> bukan tangannya panjang melainkan suka mencuri,
keras kepala >> bukan kepalanya keras seperti batu melainkan egois,
besar mulut >> bukan mulutnya besar melainkan suka membual (pembohong),
dan lain-lain.

Makna Kata Ulang Dalam Bahasa Indonesia

Kata ulang sangat banyak digunakan dalam percakapan kita sehari-hari dalam bahasa Indonesia. Lihat saja kata sehari-hari pada kalimat di atas adalah termasuk kata ulang. Di bawah ini merupakan arti dari kata ulang yang ada di Indonesia, yaitu antara lain:

1. Kata ulang yang menyatakan banyak tidak menentu.
Contoh:
- Di tempat kakek banyak pepohonan yang rimbun dan lebat sekali.
- Pulau-pulau yang ada di dekat perbatasan dengan negara lain perlu diperhatikan oleh pemerintah.
2. Kata ulang yang menyatakan sangat.
Contoh:
- Jambu merah Pak Daden besar-besar dan memiliki kenikmatan yang tinggi.
- Anak Kelas VIII orangnya malas-malas dan sangat tidak koperatif.
3. Kata ulang yang menyatakan paling.
Contoh:
- Setinggi-tingginya Joni naik pohon, pasti dia akan turun juga.
- Mastur dan Bornok mencari kecu sebanyak-banyaknya untuk makanan ikan cupang kesayangannya.
4. Kata ulang yang menyatakan mirip / menyerupai / tiruan.
Contoh:
- Adik membuat kapal-kapalan dari kertas yang dibuang Pak Jamil tadi pagi.
- Si Ucup main rumah-rumahan sama si Wati seharian di halaman rumah.
5. Kata ulang yang menyatakan saling atau berbalasan (resiprok).
Contoh:
- Ketika mereka berpacaran selalu saja cubit-cubitan sambil tertawa.
- Saat lebaran biasanya keluarga di RT IV kunjung-kunjungan satu sama lain.
6. Kata ulang yang menyatakan bertambah atau makin ….
Contoh:
- Biarkan dia main hujan! lama-lama dia akan kedinginan juga.
- Ayah meluap-luap emosinya ketika tahu dirinya masuk perangkap penipu kartu kredit.
7. Kata ulang yang menyatakan waktu atau masa.
Contoh:
- Orang katro dan ndeso itu datang ke rumahku malam-malam.
- Datang-datang dia langsung tidur di kamar karena kecapekan.
8. Kata ulang yang menyatakan berusaha atau penyebab.
Contoh:
- Setelah kejadian itu dia menguat-nguatkan diri mencoba untuk tabah.
9. Kata ulang yang menyatakan terus-menerus.
Contoh:
- Anjing buduk dan rabies itu suka mengejar-ngejar anak kecil yang lewat di dekat kandangnya yang bau.
- Mirnawati selalu bertanya-tanya pada dirinya apakah kesalahannya pada Bram dapat termaafkan.
10. Kata ulang yang menyatakan agak (melemahkan arti).
Contoh:
- Karena berjalan sangat jauh kaki si Adul sakit-sakit semua.
- Jangan tergesa-gesa begitu dong! Nanti jatuh.
11. Kata ulang yang menyatakan beberapa.
Contoh:
- Sudah bertahun-tahun nenek tua itu tidak bertemu dengan anak perempuannya yang pergi ke Hongkong.
- Mas Tono berminggu-minggu tidak apel ke rumahku. Ada apa ya?
12. Kata ulang yang menyatakan sifat atau agak.
Contoh:
- Lagak si bencong itu kebarat-baratan kayak dakocan.
- Wajahnya terlihat kemerah-merahan ketika pujaan hatinya menyapa dirinya.
13. Kata ulang yang menyatakan himpunan pada kata bilangan.
Contoh:
- Coba kamu masukkan gundu bopak itu seratus-seratus ke dalam tiap plastik!
- Jangan beli makanan banyak-banyak, Nak, nanti perutmu meletus!
14. Kata ulang yang menyatakan bersengang-senang atau santai.
Contoh:
- Dari tadi Bambang kerjanya cuma tidur-tiduran di sofa.
- Ular naga panjangnya bukan kepalang berjalan-jalan selalu riang kemari.

Pembentukan Kata-kata Bahasa Indonesia

Ada banyak ragam pembentukan kata dalam Bahasa Indonesia. Sebagian besar kata dibentuk dengan cara menggabungkan beberapa komponen yang berbeda. Untuk memahami cara pembentukan kata-kata tersebut kita sebaiknya mengetahui lebih dahulu beberapa konsep dasar dan istilah seperti yang dijelaskan di bawah ini. Untuk mempersingkat dan memperjelas pembahasannya, kami menggunakan kata-kata yang tidak bersifat gramatikal atau teknis untuk menjelaskan kata-kata tersebut sebanyak mungkin. Kami tidak membahas tentang infiks (sisipan yang jarang digunakan), reduplikasi dan kata-kata majemuk yang berafiks.

Definisi Istilah
kata dasar (akar kata) = kata yang paling sederhana yang belum memiliki imbuhan, juga dapat dikelompokkan sebagai bentuk asal (tunggal) dan bentuk dasar (kompleks), tetapi perbedaan kedua bentuk ini tidak dibahas di sini.
afiks (imbuhan) = satuan terikat (seperangkat huruf tertentu) yang apabila ditambahkan pada kata dasar akan mengubah makna dan membentuk kata baru. Afiks tidak dapat berdiri sendiri dan harus melekat pada satuan lain seperti kata dasar. Istilah afiks termasuk prefiks, sufiks dan konfiks.
prefiks (awalan) = afiks (imbuhan) yang melekat di depan kata dasar untuk membentuk kata baru dengan arti yang berbeda.
sufiks (akhiran) = afiks (imbuhan) yang melekat di belakang kata dasar untuk membentuk kata baru dengan arti yang berbeda.
konfiks (sirkumfiks / simulfiks) = secara simultan (bersamaan), satu afiks melekat di depan kata dasar dan satu afiks melekat di belakang kata dasar yang bersama-sama mendukung satu fungsi.
kata turunan (kata jadian) = kata baru yang diturunkan dari kata dasar yang mendapat imbuhan, perulangan, atau permajemukan.
keluarga kata dasar = kelompok kata turunan yang semuanya berasal dari satu kata dasar dan memiliki afiks yang berbeda.

Afiks Bahasa Indonesia yang Umum
prefiks: ber-, di-, ke-, me-, meng-, mem-, meny-, pe-, pem-, peng-, peny-, per-, se-, ter-
sufiks: -an, -kan, -i, -pun, -lah, -kah, -nya
konfiks: ke – an, ber – an, pe – an, peng – an, peny – an, pem – an, per – an, se – nya

Penggunaan Afiks
Mempelajari proses pembentukan kata-kata dan metode pembubuhan afiks merupakan kunci untuk memahami makna kata-kata turunan dan belajar membaca teks Bahasa Indonesia. Sebagian besar kata yang terdapat dalam surat kabar dan majalah Indonesia berafiks. Jika seseorang mengerti makna kata dasar, ia dapat mengerti makna sebagian besar kata yang berasal (diturunkan) dari kata dasar itu dengan menggunakan kaidah umum untuk masing-masing jenis afiks.
Jika kita dapat menerima sedikit kekeliruan dalam penggunaan afiks, kita dapat menyederhanakan pembahasan tentang afiks (imbuhan). Dalam mengklasifikasikan jenis kata (nomina, verba, adjektiva, dan lain-lain) kami menggunakan kaidah pengklasifikasian kata menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Edisi Kedua – 1991) yang disusun dan diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia. Penjelasan di bawah adalah untuk menguraikan hasil penambahan afiks (imbuhan) kepada kata dasar, bukan untuk menjelaskan bilamana afiks digunakan. Dalam kamus ini tidak diuraikan tentang asal kata dasar (etimologi). Perlu diperhatikan bahwa penjelasan di bawah ini lebih berhubungan dengan perbuatan (aksi) dalam suatu kalimat – siapa yang melakukan aksi itu, hasil perbuatan, arah perbuatan atau tindakan dan apakah tindakan itu merupakan fokus utama dalam kalimat atau bukan.

Aplikasi Afiks
ber-: menambah prefiks ini membentuk verba (kata kerja) yang sering kali mengandung arti (makna) mempunyai atau memiliki sesuatu. Juga dapat menunjukkan keadaan atau kondisi atribut tertentu. Penggunaan prefiks ini lebih aktif berarti mempergunakan atau mengerjakan sesuatu. Fungsi utama prefiks “ber-” adalah untuk menunjukkan bahwa subyek kalimat merupakan orang atau sesuatu yang mengalami perbuatan dalam kalimat itu. Banyak verba dengan afiks “ber-” mempunyai kata yang sama dengan bentuk adjektiva dalam Bahasa Inggris. Sekitar satu dari tiap 44 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki prefiks ini.

me-, meng-, menge-, meny, mem-: menambah salah satu dari prefiks ini membentuk verba yang sering kali menunjukkan tindakan aktif di mana fokus utama dalam kalimat adalah pelaku, bukan tindakan atau obyek tindakan itu. Jenis prefiks ini sering kali mempunyai arti mengerjakan, menghasilkan, melakukan atau menjadi sesuatu. Prefiks ini yang paling umum digunakan dan sekitar satu dari tiap 13 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki salah satu dari prefiks ini.

di-: Prefiks ini mempunyai pertalian yang sangat erat dengan prefiks “me-.” Prefiks “me-” menunjukkan tindakan aktif sedangkan prefiks “di-” menunjukkan tindakan pasif, di mana tindakan atau obyek tindakan adalah fokus utama dalam kalimat itu, dan bukan pelaku. Sekitar satu dari tiap 40 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki prefiks ini.

pe-: Prefiks ini membentuk nomina yang menunjukkan orang atau agen yang melakukan perbuatan dalam kalimat. Kata dengan prefiks ini juga bisa memiliki makna alat yang dipakai untuk melakukan perbuatan yang tersebut pada kata dasarnya. Apabila kata dasarnya berupa kata sifat, maka kata yang dibentuk dengan prefiks ini memiliki sifat atau karakteristik kata dasarnya. Sekitar satu dari tiap 110 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki prefiks ini.

ter-: Sekitar satu dari tiap 54 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki prefiks ini. Penambahan afiks ini menimbulkan dua kemungkinan.
(1) Jika menambahkan ke kata dasar adjektif, biasanya menghasilkan adjektif yang menyatakan tingkat atau kondisi paling tinggi (ekstrim) atau superlatif. (misalnya: paling besar, paling tinggi, paling baru, paling murah)
(2) Jika menambahkan ke kata dasar yang bukan adjektif, umumnya menghasilkan verba yang menyatakan aspek perfektif, yaitu suatu perbuatan yang telah selesai dikerjakan. Afiks ini juga bisa menunjukkan perbuatan spontanitas, yaitu suatu perbuatan yang terjadi secara tiba-tiba atau tidak disengaja (misalnya aksi oleh pelaku yang tidak disebutkan, pelaku tidak mendapat perhatian atau tindakan natural). Fokus dalam kalimat adalah kondisi resultan tindakan itu dan tidak memfokuskan pada pelaku perbuatan atau bagaimana kondisi resultan itu tercapai.

se-: menambah prefiks ini dapat menghasilkan beberapa jenis kata. Prefiks ini sering dianggap sebagai pengganti “satu” dalam situasi tertentu. Sekitar satu dari tiap 42 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki prefiks ini. Penggunaan paling umum dari prefiks ini adalah sebagai berikut:
1. untuk menyatakan satu benda, satuan atau kesatuan (seperti “a” atau “the” dalam Bahasa Inggris)
2. untuk menyatakan seluruh atau segenap
3. untuk menyatakan keseragaman, kesamaan atau kemiripan
4. untuk menyatakan tindakan dalam waktu yang sama atau menyatakan sesuatu yang berhubungan dengan waktu

-an: menambah sufiks ini biasanya menghasilkan kata benda yang menunjukkan hasil suatu perbuatan. Sufiks ini pun dapat menunjukkan tempat, alat, instrumen, pesawat, dan sebagainya. Sekitar satu dari tiap 34 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki sufiks ini.

-i: menambah sufiks ini akan menghasilkan verba yang menunjukkan perulangan, pemberian sesuatu atau menyebabkan sesuatu. Sufiks ini sering digunakan untuk memindahkan perbuatan kepada suatu tempat atau obyek tak langsung dalam kalimat yang mana tetap dan tidak mendapat pengaruh dari perbuatan tersebut . Sufiks ini pun menunjukkan di mana dan kepada siapa tindakan itu ditujukan. Sekitar satu dari tiap 70 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki sufiks ini.

-kan: menambah sufiks ini akan menghasilkan kata kerja yang menunjukkan penyebab, proses pembuatan atau timbulnya suatu kejadian. Fungsi utamanya yaitu untuk memindahkan perbuatan verba ke bagian lain dalam kalimat. Sekitar satu dari tiap 20 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki sufiks ini.

-kah: menambah sufiks ini menunjukkan bahwa sebuah ucapan merupakan pertanyaan dan sufiks ini ditambahkan kepada kata yang merupakan fokus pertanyaan dalam kalimat. Sufiks ini jarang digunakan.

-lah: sufiks ini memiliki penggunaan yang berbeda dan membingungkan, tetapi secara singkat dapat dikatakan bahwa sufiks ini sering digunakan untuk memperhalus perintah, untuk menunjukkan kesopanan atau menekankan ekspresi. Hanya sekitar satu dari tiap 400 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki sufiks ini.

ke-an: Konfiks ini yang paling umum digunakan dan sekitar satu dari tiap 65 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki konfiks ini. Konfiks ini adalah untuk:
1. membentuk nomina yang menyatakan hasil perbuatan atau keadaan dalam pengertian umum yang menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan kata dasar
2. membentuk nomina yang menunjuk kepada tempat atau asal
3. membentuk adjektif yang menyatakan keadaan berlebihan
4. membentuk verba yang menyatakan kejadian yang kebetulan

pe-an, peng-an, peny-an, pem-an: penggunaan salah satu dari keempat konfiks ini biasanya menghasilkan suatu nomina yang menunjukkan proses berlangsungnya perbuatan yang ditunjuk oleh verba dalam kalimat. Sekitar satu dari tiap 75 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki konfiks ini.

per-an: menambah konfiks ini akan menghasilkan sebuah nomina yang menunjukkan hasil suatu perbuatan (bukan prosesnya) dan dapat juga menunjukkan tempat. Artinya sering menunjuk kepada suatu keadaan yang ditunjuk oleh kata dasar atau hasil perbuatan verba dalam kalimat. Keadaan ini mirip dengan yang diperoleh dengan menggunakan konfiks “ke-an”, tetapi biasanya kurang umum dan lebih konkrit atau spesifik. Sekitar satu dari tiap 108 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki konfiks ini.

se – nya: Konfiks ini seringkali muncul bersama-sama dengan kata dasar tunggal atau kata dasar ulangan untuk membentuk adverbia yang menunjukkan suatu keadaan tertinggi yang dapat dicapai oleh perbuatan kata kerja (misalnya: setinggi-tingginya = setinggi mungkin).

-nya: Ada penggunaan “-nya” sebagai sufiks murni yang mengubah arti kata dasarnya, tetapi hal ini merupakan konsep yang agak rumit dan kurang umum dan tidak dibahas di sini. contoh: biasanya = usually; rupanya = apparently

-nya, -ku, -mu: satuan-satuan ini bukan merupakan afiks murni dan semuanya tidak dimasukkan sebagai entri dalam kamus ini. Pada umumnya satuan-satuan ini dianggap sebagai kata ganti yang menyatakan kepemilikan yang digabungkan dengan kata dasar yang mana tidak mengubah arti kata dasar. Misalnya, kata “bukuku” = buku saya, “bukumu” = buku Anda, “bukunya” = buku dia atau buku mereka. Selain sebagai kata ganti yang menyatakan kepemilikan, satuan “-nya” pun dapat memiliki fungsi untuk menunjukkan sesuatu. Misalnya, “bukunya” berarti “buku itu”, bila “-nya” berfungsi sebagai penunjuk.
Penggunaan “-nya” baik sebagai kata ganti maupun penunjuk (bukan sebagai sufiks murni) adalah sangat umum dan sekitar satu dari tiap 14 kata tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki satuan ini. Penggunaan “-ku” dan “-mu” bervariasi sesuai dengan jenis tulisan. Dua jenis kata ganti ini sangat umum digunakan dalam komik, cerpen dan tulisan tidak resmi lainnya, dan jarang digunakan dalam tulisan yang lebih formal seperti surat kabar dan majalah berita. (E.T.)

Majas (Gaya Bahasa)

Uncategorized 4 Comments »

Majas (Gaya Bahasa)

 Yang dimaksud dengan majas ialah cara pengungkapan perasaan atau pikiran dengan bahasa sedemikian rupa, sehingga kesan dan efek terhadap pembaca atau pendengar dapat dicapai semaksimal den seintensif mungkin.

Macam-Macam Gaya Bahasa

A. Gaya Bahasa Penegasan

1. Alusio  adalah gaya bahasa yang menggunakan peribahasa yang maksudnya sudah dipahami umum.
Contoh:
- Dalam bergaul hendaknya kau waspada;
- Jangan terpedaya dengan apa yang kelihatan baik di luarnya saja.
- Segala yang berkilau bukanlah berarti emas.
2. Antitesis  adalah gaya bahasa penegasan yang menggunakan paduan kata-kata yang artinya bertentangan.
Contoh:
Tinggi-rendah harga dirimu bukan elok tubuhmu yang menentukan, tetapi kelakuanmu.
3. Antiklimaks  adalah gaya bahasa penegasan yang menyatakan beberapa hal berturut-turut, makin lama makin rendah tingkatannya.
Contoh:
Kakeknya, ayahnya, dia sendiri, anaknya dan sekarang cucunya tak luput dari penyakit keturunan itu.
4. Klimaks  adalah gaya bahasa penegasan yang menyatakan beberapa hal berturut-turut, makin lama makin tinggi tingkatannya.
Contoh:
Di dusun-dusun, di desa-desa, di kota-kota, sampai ke ibu kota, hari proklamasi ini dirayakan dengan meriah.
5. Antonomasia  adalah gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata tertentu untuk menggantikan nama seseorang. Kata-kata ini diambil dari sifat-sifat yang menonjol yang dimiliki oleh orang yang dimaksud.
Contoh:
Si Pelit den Si Centil sedang bercanda di halaman rumah Si Jangkung
6. Asindeton  adalah gaya bahasa penegasan yang menyebutkan beberapa hal berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung.
Contoh:
Buku tulis, buku bacaan, majalah, koran, surat-surat kantor semua dapat anda beli di toko itu.
7. Polisindeton  (kebalikan asindeton) gaya bahasa yang menyebutkan beberapa hat berturut-turut dengan menggunakan kata penghubung.
Contoh:
Buku tulis, majalah, dan surat-surat kantor dapat dibeli di toko itu.
8. Elipsis  adalah gaya bahasa yang menggunakan kalimat elips (kalimat tak lengkap), yakni kalimat yang predikat atau subjeknya dilesapkan karena dianggap sudah diketahui oleh lawan bicara.
Contoh:
- “Kalau belum jelas, akan saya jelaskan lagi.”
- “Saya khawatir, jangan-jangan dia ….”
9. Eufemisme  adalah gaya bahasa atau ungkapan pelembut yang digunakan untuk tuntutan tatakrama atau menghindari kata-kata pantang (pamali, tabu), atau kata-kata yang kasar dan kurang sopan.
Contoh:
- Putra Bapak tidak dapat naik kelas karena kurang mampu mengikuti pelajaran.
- Pegawai yang terbukti melakukan korupsi akan dinonaktifkan
10.Hiperbolisme  adalah gaya bahasa penegasan yang menyatakan sesuatu hal dengan melebih-lebihkan keadaan yang sebenarnya.
Contoh:
- Suaranya mengguntur membelah angkasa.
- Air matanya mengalir menganak sungai.
11.Interupsi  adalah gaya bahasa penegasan yang mempergunakan kata-kata atau frase yang disisipkan di tengah-tengah kalimat.
Contoh:
Saya, kalau bukan karena terpaksa, tak mau bertemu dengan dia lagi.
12.Inversi  adalah gaya bahasa dengan menggunakan kalimat inversi, yakni kalimat yang predikatnya mendahului subjek. Hal ini sengaja dibuat untuk memberikan ketegasan pada predikatnya.
Contoh:
Pergilah ia meninggalkan kampung halamannya untuk mencari harapan baru di kota.
13.Koreksio  adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata pembetulan untuk mengoreksi (menggantikan kata yang dianggap salah).
Contoh: Setelah acara ini selesai, silakan Saudara-Saudara pulang, eh maaf silakan Saudara-Saudara mencicipi hidangan yang telah tersedia.
14.Metonimia  adalah gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata atau sebuah nama yang berhubungan dengan suatu benda untuk menyebut benda yang dimaksud. Misal, penyebutan yang didasarkan pada merek dagang, nama pabrik, nama penemu, dun lain sebagainya.
Contoh:
- Ayah pergi ke Bandung mengendarai kijang.
- Udin mengisap Gentong, Husni mengisap Gudang Garam.
15.Paralelisme  adalah gaya bahasa pengulangan seperti repetisi yang khusus terdapat dalam puisi. Pengulangan di bagian awal dinamakan anafora, sedang di bagian akhir disebut epifora.
Contoh Anafora :
- Sunyi itu duka
- Sunyi itu kudus
- Sunyi itu lupa
- Sunyi itu lampus
Contoh Epifora :
- Rinduku hanya untukmu
- Cintaku hanya untukmu
- Harapanku hanya untukmu
16.Pleonasmse  adalah gaya bahasa penegasan yang menggunakan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu karena artinya sudah terkandung dalam kata sebelumnya.
Contoh:
- Benar! Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa Tono berkelahi di tempat itu.
- Dia maju dua langkah ke depan.
17.Parafrase  adalah gaya bahasa penguraian dengan menggunakan ungkapan atau frase yang lebih panjang daripada kata semula. Misal, pagi-pagi digantikan ketika sang surya merekah di ufuk timur; materialistis diganti dengan gila harta benda.
Contoh:
“Pagi-pagi Ali pergi ke sawah.” dijadikan “Ketika mentari membuka lembaran hari, anak sulung Pak Sastra itu melangkahkan kakinya ke sawah.”
18.Repetisi  adalah gaya bahasa penegasan yang mengulang-ulang sebuah kata berturut-turut dalam suatu wacana. Gaya bahasa jenis ini sering dipakai dalam pidato atau karangan berbentuk prosa.
Contoh:
- Harapan kita memang demikian, dan demikian pula harapan setiap pejuang.
- Sekali merdeka, tetap merdeka!
19.Retoris  adalah gaya bahasa penegasan yang menggunakan kalimat tanya, tetapi sebenarnya tidak bertanya.
Contoh:
Bukankah kebersihan adalah pangkal kesehatan?
Inikah yang kau namakan kerja?
20.Sinekdoke, gaya bahasa ini terbagi menjadi dua yaitu :
(a) Pars pro toto (sebagian untuk keseluruhan) dan
(b) Totem pro parte (keseluruhan untuk sebagian).
Pars pro Toto adalah gaya babasa yang menyebutkan sebagian untuk menyatakan keseluruhan.
Contoh:
Setiap kepala diwajibkan membayar iuran Rp1.000,00.
Sudah lama ditunggu-tunggu, belum tampak juga batang hidungnya.
Totem pro parte adalah gaya bahasa yang menyebutkan keseluruhan untuk menyatakan sebagian.
Contoh:
Cina mengalahkan Indonesia dalam babak final perebutan Piala Thomas.
21.Tautologi  adalah gaya bahasa penegasan yang menggunakan kata-kata yang sama artinya dalam satu kalimat.
Contoh:
- Engkau harus dan wajib mematuhi semua peraturan.
- Harapan dan cita-citanya terlalu muluk.

B. Gaya Bahasa Perbandingan

1. Alegori  ialah gaya bahasa perbandingan yang membandingkan dua buah keutuhan berdasarkan persamaannya secara menyeluruh.
Contoh:
Kami semua berdoa, semoga dalam mengarungi samudra kehidupan ini, kamu berdua akan sanggup menghadapi badai dan gelombang.
2. Litotes  adalah gaya bahasa perbandingan yang menyatakan sesuatu dengan memperendah derajat keadaan sebenarnya, atau yang menggunakan kata-kata yang artinya berlawanan dari yang dimaksud untuk merendahkan diri.
Contoh:
- Dari mana orang seperti saya ini mendapat uang untuk membeli barang semahal itu.
- Silakan, jika kebetulan lewat, Saudara mampir ke pondok saya.
3. Metafora  adalah gaya bahasa perbandingan yang membandingkan dua hal yang berbeda berdasarkan persamaannya.
Contoh:
- Gelombang demonstrasi melanda pemerintah orde lama.
- Semangat juangnya berkobar, tak gentar menghadapi musuh.
4. Personifikasi atau penginsanan  adalah gaya babasa perbandingan. Benda-benda mati atau benda-benda hidup selain manusia dibandingkan dengan manusia, dianggap berwatak dan berperilaku seperti manusia.
Contoh:
- Bunyi lonceng memanggil-manggil siswa untuk segera masuk kelas.
- Nyiur melambai-lambai di tepi pantai
5. Simile  adalah gaya bahasa perbandingan yang mempergunakan kata-kata pembanding (seperti, laksana, bagaikan, penaka, ibarat, dan lain sebagainya) dengan demikian pernyataan menjadi lebih jelas.
Contoh:
- Hidup tanpa cinta bagaikan sayur tanpa garam.
- Wajahnya seperti rembulan.
6. Simbolik  adalah gaya, bahasa kiasan, mempergunakan lambang-lambang atau simbol-simbol untuk menyatakan sesuatu. Misal, bunglon lambang manusia yang tidak jelas pendiriannya; lintah darat lambang manusia pemeras; kamboja lambang kematian.
Contoh:
Janganlah kau menjadi bunglon!
7. Tropen  adalah gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata yang maknanya sejajar dengan pengertian yang dimaksudkan.
Contoh:
- Seharian ia berkubur di dalam kamarnya.
- Bapak Presiden terbang ke Denpasar tadi pagi.

C. Gaya Bahasa Pertentangan

1. Anakronisme  adalah gaya bahasa yang mengandung uraian atau pernyataan yang tidak sesuai dengan sejarah atau zaman tertentu. Misalnya menyebutkan sesuatu yang belum ada pada suatu zaman.
Contoh:
Mahapatih Gadjah Mada menggempur pertahanan Sriwijaya dengan peluru kendali jarak menengah.
2. Kontradiksio in terminis  adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan, yakni apa yang dikatakan terlebih dahulu diingkari oleh pernyataan yang kemudian.
Contoh:
Suasana sepi, tak ada seorang pun yang berbicara, hanya jam dinding yang terus kedengaran berdetak-detik.
3. Okupasi  adalah gaya bahasa pertentangan yang mengandung bantahan dan penjelasan.
Contoh:
-Sebelumnya dia sangat baik, tetapi sekarang menjadi berandal karena tidak ada perhatian dari orang tuanya.
-Ali sebenarnya bukan anak yang cerdas, namun karena kerajinannya melebihi kawan sekolahnya, dia mendapat nilai paling tinggi.
4. Paradoks  adalah gaya bahasa yang mengandung dua pernyataan yang bertentangan, yang membentuk satu kalimat.
Contoh:
- Dengan kelemahannya, wanita mampu menundukkan pria.
- Tikus mati kelaparan di lumbung padi yang penuh berisi.

D. Gaya Bahasa Sindiran

1. Inuendo  adalah gaya bahasa sindiran yang mempergunakan pernyataan yang mengecilkan kenyataan sebenarnya.
Contoh:
la menjadi kaya raya lantaran mau sedikit korupsi.
2. Ironi  adalah gaya bahasa sindiran paling halus yang menggunakan kata-kata yang artinya justru sebaliknya dengan maksud pembicara.
Contoh:
Eh, manis benar teh ini. (maksudnya: pahit).
3. Sarkasme  adalah gaya bahasa sindiran yang menggunakan kata-kata yang kasar. Biasanya gaya bahasa ini dipakai untuk menyatakan amarah.
Contoh:
- Jangan coba-coba mengganggu adikku lagi, Monyet!
- Dasar goblok, sudah berkali-kali diberi tahu, tetap saja tidak mengerti!
4. Sinisme  adalah semacam ironi, tetapi agak lebih kasar.
Contoh :
Hai, harum benar baumu. Tolong agak menyisih sedikit!

E. Gaya Bahasa Perulangan

1. Aliterasi  adalah gaya bahasa yang memanfaatkan kata-kata yang permulaannya sama bunyinya.
Contoh:
Keras kepala, keras hati, sekaligus keras adat.
2. Antanaklasis  adalah gaya bahasa yang mengandung ulangan kata yang sama dengan makna yang berbeda.
3. Anafora  gaya bahasa yang berwujud perulangan kata pertama dari kalimat pertama menjadi kata pertama dalam kalimat selanjutnya.
Contoh:
Hak asasi manusia merupakan hak mutlak yang wajib kita junjung tinggi dalam membangun bangsa dan negara. Hak asasi manusia itulah yang sekarang menjadi topik utama dunia internasional.
4. (Lihat buku Intisari Bhs. Dan Sastra Ind. SMA hal. 29) .. (E.T.)

Citraan

Uncategorized  Tagged No Comments »

strong>CITRAAN DALAM PUISI

Citraan adalah penggambaran mengenai objek berupa kata, frase, atau kalimat yang tertuang di dalam puisi atau prosa. Citraan dimaksudkan agar pembaca dapat memperoleh gambaran konkret tentang hal-hal yang ingin disampaikan oleh pengarang atau penyair. Dengan demikian, unsure citraan dapat membantu kita dalam menafsirkan makna dan menghayati sebuah puisi secara menyeluruh.

Jenis Citraan dibagi menjadi 7, yakni:

1. Citraan penglihatan, yaitu citraan yang ditimbulkan oleh indera penglihat (mata). Citraan ini dapat memberikan ransangan kepada mata sehingga seolah-olah dapat melihat sesuatu yang sebenarnya tidak terlihat.
2. Citraan pendengaran, yaitu citraan yang ditimbulkan oleh indera pendengar (telinga). Citraan ini dapat memberikan ransangan kepada telinga sehingga seolah-olah dapat mendengar sesuatu yang diungkapkan melalui citraan tersebut.
3. Citraan perabaan, yaitu citraan yang melibatkan indera peraba (kulit), misalnya kasar, lembut, halus, basah, panas, dingin, dll.
4. Citraan penciuman, yaitu citraan yang berhubungan dengan indera pencium (hidung). Kata-kata yang mengandung citraan ini menggambarkan seolah-olah objek yang dibicarakan berbau harum, busuk, anyir, dll.
5. Citraan pencecapan, yaitu citraan yang melibatkan indera pencecap (lidah). Melalui citraan ini seolah-olah kita dapat merasakan sesuatu yang pahit, asam, manis, kecut, dll.
6. Citraan gerak, yaitu citraan yang secara konkret tidak bergerak, tetapi secara abstrak objek tersebut bergerak.
7. Citraan perasaan, yaitu citraan yang melibatkan hati (perasaan). Citraan ini membantu kita dalam menghayati suatu objek atau kejadian yang melibatkan perasaan. (E.T.)

Sejarah Bahasa Indonesia

Filologi, Morfologi Bahasa, sejarah, Sintaksis  Tagged , , 2 Comments »

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia, namun hanya sebagian kecil dari penduduk Indonesia yang benar-benar menggunakannya sebagai bahasa ibu. Untuk sebagian besar lainnya bahasa Indonesia adalah bahasa kedua. Bahasa Indonesia ialah sebuah dialek bahasa Melayu yang menjadi bahasa resmi Republik Indonesia.

Bahasa Indonesia diresmikan pada kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1945. Bahasa Indonesia adalah bahasa dinamis yang hingga sekarang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan asing. Bahasa Indonesia adalah dialek baku dari bahasa Melayu. Fonologi dan tata bahasa dari bahasa Indonesia cukuplah mudah, dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu. Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan sebagai pengantar pendidikan di sekolah di Indonesia.

Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern, paling tidak dalam bentuk informalnya. Bentuk bahasa sehari-hari ini sering dinamai dengan istilah Melayu Pasar. Jenis ini sangat lentur sebab sangat mudah dimengerti dan ekspresif, dengan toleransi kesalahan sangat besar dan mudah menyerap istilah-istilah lain dari berbagai bahasa yang digunakan para penggunanya.

Bentuk yang lebih formal, disebut Melayu Tinggi, pada masa lalu digunakan kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Malaya, dan Jawa. Bentuk bahasa ini lebih sulit karena penggunaannya sangat halus, penuh sindiran, dan tidak seekspresif bahasa Melayu Pasar.
Pemerintah kolonial Belanda yang menganggap kelenturan Melayu Pasar mengancam keberadaan bahasa dan budaya. Belanda berusaha meredamnya dengan mempromosikan bahasa Melayu Tinggi, di antaranya dengan penerbitan karya sastra dalam bahasa Melayu Tinggi oleh Balai Pustaka. Tetapi bahasa Melayu Pasar sudah terlanjur diadopsi oleh banyak pedagang yang melewati Indonesia.

Penyebutan pertama istilah “Bahasa Melayu” sudah dilakukan pada masa sekitar 683-686 M, yaitu angka tahun yang tercantum pada beberapa prasasti berbahasa Melayu Kuna dari Palembang dan Bangka. Prasasti-prasasti ini ditulis dengan aksara Pallawa atas perintah raja Sriwijaya, kerajaan maritim yang berjaya pada abad ke-7 dan ke-8. Wangsa Syailendra juga meninggalkan beberapa prasasti Melayu Kuna di Jawa Tengah. Keping Tembaga Laguna yang ditemukan di dekat Manila juga menunjukkan keterkaitan wilayah itu dengan Sriwijaya.
Karena terputusnya bukti-bukti tertulis pada abad ke-9 hingga abad ke-13, ahli bahasa tidak dapat menyimpulkan apakah bahasa Melayu Klasik merupakan kelanjutan dari Melayu Kuna. Catatan berbahasa Melayu Klasik pertama berasal dari Prasasti Terengganu berangka tahun 1303. Seiring dengan berkembangnya agama Islam dimulai dari Aceh pada abad ke-14, bahasa Melayu klasik lebih berkembang dan mendominasi sampai pada tahap di mana ekspresi “Masuk Melayu” berarti masuk agama Islam.

Bahasa Melayu di Indonesia kemudian digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan), namun pada waktu itu belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa ibu. Biasanya masih digunakan bahasa daerah (yang jumlahnya bisa sampai sebanyak 360).
Awal penciptaan Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa bermula dari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Di sana, pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, dicanangkanlah penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk negara Indonesia pascakemerdekaan. Soekarno tidak memilih bahasanya sendiri, Jawa (yang sebenarnya juga bahasa mayoritas pada saat itu), namun beliau memilih Bahasa Indonesia yang beliau dasarkan dari Bahasa Melayu yang dituturkan di Riau.

Bahasa Melayu Riau dipilih sebagai bahasa persatuan Negara Republik Indonesia atas beberapa pertimbangan sebagai berikut:

1. Jika bahasa Jawa digunakan, suku-suku bangsa atau puak lain di Republik Indonesia akan merasa dijajah oleh suku Jawa yang merupakan puak (golongan) mayoritas di Republik Indonesia.
2. Bahasa Jawa jauh lebih sukar dipelajari dibandingkan dengan bahasa Melayu Riau. Ada tingkatan bahasa halus, biasa, dan kasar yang dipergunakan untuk orang yang berbeda dari segi usia, derajat, ataupun pangkat. Bila pengguna kurang memahami budaya Jawa, ia dapat menimbulkan kesan negatif yang lebih besar.
3. Bahasa Melayu Riau yang dipilih, dan bukan Bahasa Melayu Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Maluku, Jakarta (Betawi), ataupun Kutai, dengan pertimbangan pertama suku Melayu berasal dari Riau, Sultan Malaka yang terakhir pun lari ke Riau selepas Malaka direbut oleh Portugis. Kedua, ia sebagai lingua franca, Bahasa Melayu Riau yang paling sedikit terkena pengaruh misalnya dari bahasa Cina Hokkien, Tio Ciu, Ke, ataupun dari bahasa lainnya.
4. Pengguna bahasa Melayu bukan hanya terbatas di Republik Indonesia. Pada tahun 1945, pengguna bahasa Melayu selain Republik Indonesia masih dijajah Inggris. Malaysia, Brunei, dan Singapura masih dijajah Inggris. Pada saat itu, dengan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, diharapkan di negara-negara kawasan seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura bisa ditumbuhkan semangat patriotik dan nasionalisme negara-negara jiran di Asia Tenggara.

Dengan memilih Bahasa Melayu Riau, para pejuang kemerdekaan bersatu lagi seperti pada masa Islam berkembang di Indonesia, namun kali ini dengan tujuan persatuan dan kebangsaan. Bahasa Indonesia yang sudah dipilih ini kemudian distandardisasi (dibakukan) lagi dengan nahu (tata bahasa), dan kamus baku juga diciptakan. Hal ini sudah dilakukan pada zaman Penjajahan Jepang.

Mulanya Bahasa Indonesia ditulis dengan tulisan Latin-Romawi mengikuti ejaan Belanda, hingga tahun 1972 ketika Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dicanangkan. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan.

Perubahan:
Indonesia
(pra-1972) Malaysia
(pra-1972) Sejak 1972
tj ch c
dj j j
ch kh kh
nj ny ny
sj sh sy
j y y
oe* u u
Catatan: Tahun 1949 “oe” sudah digantikan dengan “u”.

Dibandingkan dengan bahasa-bahasa Eropa, bahasa Indonesia tidak banyak menggunakan kata bertata bahasa dengan jenis kelamin. Sebagai contoh kata ganti seperti “dia” tidak secara spesifik menunjukkan apakah orang yang disebut itu lelaki atau perempuan. Hal yang sama juga ditemukan pada kata seperti “adik” dan “pacar” sebagai contohnya. Untuk menspesifikasi sebuah jenis kelamin, sebuah kata sifat harus ditambahkan, “adik laki-laki” sebagai contohnya.
Ada juga kata yang berjenis kelamin, seperti contohnya “putri” dan “putra”. Kata-kata seperti ini biasanya diserap dari bahasa lain (pada kasus di atas, kedua kata itu diserap dari bahasa Sanskerta melalui bahasa Jawa Kuno.

Untuk mengubah sebuah kata benda menjadi bentuk jamak digunakanlah reduplikasi (perulangan kata), tapi hanya jika jumlahnya tidak terlibat dalam konteks. Sebagai contoh “seribu orang” dipakai, bukan “seribu orang-orang”. Perulangan kata juga mempunyai banyak kegunaan lain, tidak terbatas pada kata benda.
Bahasa Indonesia menggunakan dua jenis kata ganti orang pertama jamak, yaitu “kami” dan “kita”. “Kami” adalah kata ganti eksklusif yang berarti tidak termasuk sang lawan bicara, sedangkan “kita” adalah kata ganti inklusif yang berarti kelompok orang yang disebut termasuk lawan bicaranya.

Susunan kata dasar adalah Subjek – Predikat – Objek (SPO), walaupun susunan kata lain juga mungkin. Kata kerja tidak di bahasa berinfleksikan kepada orang atau jumlah subjek dan objek. Bahasa Indonesia juga tidak mengenal kala/waktu (tense). Waktu dinyatakan dengan menambahkan kata keterangan waktu (seperti, “kemarin” atau “besok”), atau indikator lain seperti “sudah” atau “belum”.
Dengan tata bahasa yang cukup sederhana bahasa Indonesia mempunyai kerumitannya sendiri, yaitu pada penggunaan imbuhan yang mungkin akan cukup membingungkan bagi orang yang pertama kali belajar bahasa Indonesia. (E.T.)

Frase, Klausa, dan Kalimat

Uncategorized  Tagged , , 1 Comment »

Frase

Macam-macam frase dari kelas kata
1. Frase endosentris:

 Sebuah susunan yang merupakan gabungan dua kata atau lebih ,yang menunjukkan bahwa kelas kata dari perpaduan itu sama dengan kelas kata dari salah satu (atau lebih) unsur pembentuknya.
Contoh:
guru agama (kata benda)  guru (kata benda) agama (kata benda)
gadis cantik (kata benda)  gadis (kata benda) cantik (kata sifat)

Frase endosentris dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Frase bertingkat (frase subordinatif, frase atributif), yaitu frase yang mengandung unsur inti (D) dan unsur penjelas (M).
Contoh:

baju baru
D M

anak manis
D M

sebatang rokok kretek
M D M

sebuah rumah mewah
M D M

seorang guru
M D

sepotong roti
M D

2. Frase setara (frase koordinatif): frase yang mengandung dua buah unsur inti (tidak ada unsur penjelas/atribut).
Contoh:

suami istri
sawah ladang
sanak saudara

2. Frase Eksosentris:

 Sebuah susunan yang merupakan gabungan dua kata (atau lebih) yang menunjukkan bahwa kelas kata dari perpaduan itu tidak sama dengan kelas kata dari salah satu(atau lebih) unsur pembentukannya.
Contoh:
dari sekolah (kata keterangan)  dari (kata depan) sekolah (kata benda).
yang memimpin(kata benda)  yang (kata tugas) memimpin (kata kerja)

Contoh lain:
dari kantor di rumah karena lelah
KT KB KT KB KT KS
K Ket. K Ket. K Ket.

Keterangan:
( KB ) Kata benda
( KK ) Kata kerja
( KS ) Kata sifat
( KT ) Kata tugas
( K Ket. ) Kata keterangan

Klausa

 suatu konstruksi yang sekurang-kurangnya terdiri atas dua kata, yang mengandung hubungan fungsional subjek-predikat, dan secara fakultatif, dapat diperluas dengan beberapa fungsi lain seperti objek dan keterangan-keterangan lain. (Keraf, 1991: 181). Klausa dapat dibedakan atas beberapa macam berdasarkan beberapa sudut tinjauan

Macam klausa berdasarkan urutan kata:

(1) Klausa normal, subjek mendahului predikat.
Contoh:
ia datang ke rumahku
adik penari
orang itu kurus

(2) Klausa inversi, predikat mendahului subjek.
Contoh:
datang dia malam itu
pergi ayah tak tentur arah

(3) Klausa inversi khusus, klausa inversi yang didahului oleh keterangan.
Contoh:
ke tanah leluhur pergi mereka
kemarin datanglah surat itu
karena sakit menangislah dia

berdasarkan variasi subjek-predikat:

(1) Klausa berpredikat kata kerja intrasitif
Contoh:
anak itu menari
kuda meringkik
kakek merokok
nenek duduk

(2) Klausa berpredikat kata kerja transitif
Contoh:
guru mengajar murid
kurir mengantar surat
Andri mencintai Dian

(3) Klausa berpredikat kata benda
Contoh:
pamannya lurah
ibunya seorang bidan
kakaknya tentara

(4) Klausa berpredikat kata sifat.
Contoh:
gadis itu cantik
bapak saya tampan
bapakmu pelit

(5) Klausa berpredikat frase konektif
Contoh:
anak itu merupakan musuh mereka
Sinta menjadi pramugari
Maman adalah pemuda berpikiran maju

(6) Klausa berpredikat adverbial (frase preposisional)
Contoh:
nenekku dari Kalimantan
ibu ke Bandung kemarin
ayah ke Bekasi naik onta

berdasarkan keterikatannya dengan klausa lain:

(1) Klausa bebas, klausa yang dapat berdiri sendiri dan tidak bergantung pada klausa lain.
Contoh:
Ani membawa buku
guru mengajar murid

(2) Klausa terikat, klausa yang kehadirannya bergantung pada klausa lain dan biasanya ditandai oleh adanya konjungsi (kata penghubung).
Contoh:
ketika ayah pergi
agar tubuh subur
sebab kehadirannya tak diperhitungkan

Klausa terikat merupakan bagian dari sebuah kalimat, dan dapat hadir bersama-sama atau dikaitkan dengan klausa bebas. Klausa di atas, misalnya, merupakan bagian dari kalimat:
Ibu merasa sedih ketika ayah pergi.
Tanamanan itu diberinya pupuk agar tumbuh subur.
Dadang kecewa sebab kehadirannya tak diperhitungkan

Kalimat

 bagian ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap. (Keraf, 1991: 185). Kalimat dapat dibedakan berdasarkan bermacam-macam hal sebagai berikut:

(1) Berdasarkan nilai informasinya, (sasaran atau tujuan yang akan dicapai) kalimat dibedakan atas:

(a) kalimat berita
(b) kalimat tanya
(c) kalimat perintah:
- suruhan
- ajakan
- permintaan
- larangan
(d) kalimat harapan
(e) kalimat pengandaian

(2) Berdasarkan diatesis, kalimat dibedakan atas:

(a) kalimat aktif (subjek melakukan perbuatan)
(b) kalimat pasif (subjek dikenai perbuatan)

(3) Berdasarkan urutan katanya, kalimat dibedakan atas:

(a) kalimat normal (subjek mandabului predikat)
(b) kalimat inversi (predikat mendahului subjek)

(4) Berdasarkan jumlah inti yang membentuknya, kalimat dibedakan atas:
(a) kalimat minor (hanya mengandung satu inti)
(b) kalimat mayor (mengandung lebih dari satu inti)

(5) Berdasarkan pola-pola dasar yang dimilikinya, kalimat dibedakan atas:

(a) kalimat inti
(b) kalimat luas (perluasan dari kalimat inti)
(c) kalimat transformasi (perubahan dari kalimat inti)

Ciri-ciri kalimat inti:
- hanya terdiri atas dua kata
- kedua kata itu sekaligus menjadi inti kalimat (kata pertama menduduki jabatan subjek, kata kedua menduduki jabatan predikat)
- urutannya adalah subjek mendahului predikat
- intonasinya adalah intonasi berita yang netral

(6) Berdasarkan jumlah kontur yang terdapat di dalamnya, kalimat dibedakan atas:
(a) kalimat minim (hanya mengandung satu kontur)
(b) kalimat panjang (mengandung lebih dari satu kontur)

Kontur adalah bagian arus ujaran yang diapit oleh dua kesenyapan.
Contoh:
(i) # Pergi! #
(ii) # Berita daerah membangun # disiarkan TVRI # setiap hari #

Kalimat (i) adalah kalimat minim, sedangkan kalimat (ii) adalah kalimat panjang.

(7) Berdasarkan jumlah klausa yang terkandung di dalamnya, kalimat dibedakan atas:

(a) kalimat tunggal (kalimat yang hanya mengandung satu klausa/satu pola S-P)
(b) kalimat majemuk (kalimat yang mengandung lebih dari satu klausa/lebih dari satu pola S-P). Kalimat majemuk, berdasarkan hubungan antar klausanya dibedakan lagi atas:

(b. 1) kalimat majemuk setara:
- setara menggabung
- setara memilih
- setara mempertentangkan
- setara menguatkan
(b.2) kalimat majemuk bertingkat
(b.3) kalimat majemuk campuran
(b.4) kalimat majemuk rapatan

Pola dasar kalimat
Pola dasar kalimat mempersoalkan kelas kata (jenis kata) apa yang mendasari pembentukan kalimat inti. Di sini kita melihat kelas kata apa yang menduduki jabatan subjek dan kelas kata apa pula yang menduduki jabatan predikat.

Berdasarkan kelas kata yang menduduki fungsi S-P, dapat ditentukan pola dasar kalimat bahasa Indonesia sebagai berikut:

No. Subjek Predikat Contoh Kalimat
1 Kata Benda Kata Kerja Ari menari.
Satya dihukum.
2 Kata Benda Kata Sifat Arsinta cantik.
Togop malas.
3 Kata Benda Kata Benda Hasahatan dokter.
Bahrudin akuntan.
4 Kata Benda Kata Tugas Ibu ke pasar.
Kakek dari Sukabumi.

Catatan:
Pola dasar no.4 sebagaimana terlihat pada contoh kalimat di atas, seringkali tidak diterima sebagai kalimat yang baik dan benar. Kalimat contoh tersebut akan diterima sebagai kalimat yang baik dan benar apabila diubah menjadi sebagai berikut:
Ibu pergi ke pasar.
Kakek berasal dari Sukabumi. (atau)
Kakek datang dari Sukabumi.

Kalimat baku (standar) dipergunakan apabila kita berbahasa baku. Adapun ciri-ciri kalimat baku adalah sebagai berikut:
1. menggunakan kata-kata baku
2. menggunakan struktur baku (sesuai dengan kaidah morfologi dan sintaksis bahasa Indonesia)
3. dalam ragam tulis, menggunakan ejaan baku (sesuai dengan Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan)
4. dalam ragam lisan, menggunakan lafal baku (lafal yang tidak mencerminkan logat asing atau logat kedaerahan)
Contoh:
a. Siapa yang bikin rumah itu? (tidak baku)
Siapa yang membuat rumah ini? (baku)
b. Rumahnya Udin yang catnya kuning. (tidak baku)
Rumah Udin yang bercat kuning. (baku)
c. Mudah2an dia lekas dalang (tidak baku)
Mudah-mudahan dia lekas datang (baku)

Kalimat pasif inversi

Kalimat pasif inversi adalah kalimat pasif dengan pola inversi. Kalimat pasif adalah kalimat berpredikat kata kerja yang subjeknya terkena perbuatan yang tersebut dalam predikat. Kalimat berpola inversi adalah kalimat yang predikatnya mendahului subjek.
Contoh:

(1) Diambilnya uang itu dari dalam laci.
P S K
(2) Atas perhatian Bapak, saya ucapkan terima kasih.
K P S
(3) Sudah saya baca buku itu.
P S
(4) Mereka taburkan bunga di pusara ibu.
P S K

Untuk memahami contoh-contoh kalimat di atas, perhatikan langkah-langkah perubahan dari kalimat aktif hingga menjadi kalimat pasif inversi di bawah ini !

Pertama: Kalimat aktif
Ia mengambil uang itu dari dalam laci.
S P O.penderita K

Kedua: diubah menjadi pasif
Uang itu diambil oleh ia dari dalam laci.
S P O.pelaku K

Ketiga: disederhanakan (P dan O pelaku disatukan menjadi P)
Uang itu diambilnya dari dalam laci.
S P K

Keempat: diinversikan
diambilnya uang itu dari dalam laci.
P S K
Mereka menaburkan bunga di pusara ibu.
S P O K
Bunga ditaburkan oleh mereka di pusara ibu.
S P O. pelaku K
bunga mereka taburkan di pusara ibu.
S P K
Mereka taburkan bunga di pusara ibu.
P S K

Keterangan aspek kala

Keterangan aspek kala adalah keterangan yang menandai waktu pelaksanaan pekerjaan/ perbuatan/ proses yang tersebut pada predikat kalimat. Keterangan aspek kala posisinya selalu di depan predikat kalimat. Kata-kata yang merupakan keterangan aspek kala adalah sudah, telah, sedang, belum, dan akan

Contoh:
(1) Ani sedang membaca buku.
keterangan aspek kontinuatif, menyatakan pekerjaan tengah berlangsung
(2) Ani akan membaca buku.
keterangan aspek futuratif, menyatakan pekerjaan akan berlangsung
(3) Ani telah membaca buku.
keterangan aspek perfektif, menyatakan pekerjaan sudah berlangsung

Letak keterangan aspek kala pada kalimat pasif inversi
Pada kalimat pasif inversi, keterangmi aspek kala posisinya sama dengan posisi pada kalimat aktif dan kalimat pasif biasa, yaitu di depan predikat.

Perhatikan contoh berikut !
(1) Rudi telah membaca kitab itu hingga tamat.
(2) Kitab itu telah dibaca oleh Rudi hingga tamat.
(3) Kitab itu telah Rudi baca hingga tamat.
(4) Telah Rudi baca kitab itu hingga tamat.
(5) Rudi telah baca kitab itu hingga tamat.
Letak kata telah pada kalimat (1), (2), (3), dan (4) benar, sedangkan pada kalimat (5) salah. Dengan demikian kalimat (5) adalah kalimat yang mengalami kesalahan struktural.

Gagasan utama kalimat

Gagasan utama atau pikiran pokok kalimat adalah amanat/informasi yang terpenting yang terkandung dalam sebuah katimat. Gagasan utama kalimat dinyatakan dengan pola S-P atau pola S-P-O.

Gagasan utama dinyatakan dengan pola S-P dalam kalimat nominal dan kalimat verbal intransitif ~Sedangkan pada kalimat verbal transitif gagasan utama dapat dinyatakan dengan pola S-P-O atau S-P saja.

Contoh:
(1) Amir sedang membaca buku di dalam kamar.
S P O K
GU: Amir membaca.

(2) Kemarin Ida mengantarkan surat ke rumahku.
K S P O K
GU: Ida mengantarkan surat.

(3) Ayah Anita adalah seorang perwira menengah.
S P
GU: Ayah perwira.

(4) Ketty sedang duduk di ruang tamu
S P K
GU: Ketty duduk.

Gagasan utama pada kalimat majemuk setara
Kalimat mejemuk setara adalah kalimat yang mengandung dua pola klausa atau lebih yang hubungan antarklausa bersifat setara. Pada kalimat majemuk setara terdapat lebih dari satu gagasan yang kedudukannya sederajat. Jadi, dalam kalimat majemuk setara, terdapat lebih deri satu gagasan utama.
Contoh:
(1) Eko makan sate, Andi makan asilnan.
GU: (1) Eko makan, (2) Andl makan.

(2) Ali sedang belajar, sedangkan Abas sedang tidur.
GU: (1) Ali belajar, (2) Abas tidur.

Gagasan Utama pada kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat pada dasarnya adalah kalimat tunggal yang salah satu fungsinya diperluas dan perluasannya itu membentuk sebuah pola klausa. Di dalam kalimat majemuk bertingkat terdapat klausa utama (klausa bebas) den klausa terikat. Dengan demikian, dalam kalimat majemuk bertingkat terdapat gagasan utama dan gagasan bawahan (gagasan penjelas). Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa gagasan utama tidak selamanya berada pada klausa utama. Perhatikan keterangan berikut dengan baik.

(a) Apabila anak kalimat merupakan perluasan fungsi keterangan, gagasan utama terdapat pada klausa utama yang merupakan induk kalimat.
Contoh:
(1) Ketika ayah pergi, ibu kesepian di rumah.
GU: lbu kesepian.
(2) Wati menyirami tanaman itu setiap hari supaya buahnya lebat.
GU: Wati menyirami tanaman.
(3) Aminah bahagia karena suaminya naik pangkat.
GU: Aminah bahagia.

(b) Apabila anak kalimat merupakan perluasan fungsi objek (anak kalimat merupakan objek dari predikat verba transitif), gagasan utama terdapat pada anak kalimat.
Contoh:
(1) Presiden mengatakan bahwa pembangunan harus dilanjutkan.
GU: Pembangunan harus dilanjutkan.
(2) Mat Kemplo menceritakan bahwa kakeknya jatuh dari ayunan.
GU: Kakeknya jatuh.
(c) Apabila anak kalimat merupakan pelengkap, gagasan utama terdapat pada induk kalimat.
Contoh:
(1) Saya berharap hal itu tidak akan terjadi.
GU: Saya berharap.
(2) Mereka lupa bahwa mereka harus melunasi pinjamannya pada akhir bulan ini.
GU: Mereka lupa.
(E.T.)

Ejaan yang Disempurnakan

Uncategorized  Tagged 11 Comments »

Ejaan yang Disempurnakan

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik. Pada 23 Mei 1972, sebuah pernyataan bersama telah ditandatangani oleh Menteri Pelajaran Malaysia pada masa itu, Tun Hussien Onn dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Mashuri. Pernyataan bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan Ejaan Yang Disempurnakan. Pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden No. 57, Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin (Rumi dalam istilah bahasa Melayu Malaysia) bagi bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Di Malaysia ejaan baru bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB). Selanjutnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarluaskan buku panduan pemakaian berjudul “Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”.

Pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan buku “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah”. Perbedaan-perbedaan antara EYD dan ejaan sebelumnya adalah:
‘tj’ menjadi ‘c’ : tjutji → cuci
‘dj’ menjadi ‘j’ : djarak → jarak
‘j’ menjadi ‘y’ : sajang → sayang
‘nj’ menjadi ‘ny’ : njamuk → nyamuk
‘sj’ menjadi ‘sy’ : sjarat → syarat
‘ch’ menjadi ‘kh’ : achir → akhir

Penggunaan Tanda baca

Tanda Titik (.)
1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
contoh: Saya suka makan nasi.
Sebuah kalimat diakhiri dengan titik. Apabila dilanjutkan dengan kalimat baru, harus diberi jarak satu ketukan. Cara ini dilakukan dalam penulisan karya ilmiah.
2. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
contoh:
Irwan S. Gatot
George W. Bush
Tetapi apabila nama itu ditulis lengkap, tanda titik tidak dipergunakan.
Contoh: Anthony Tumiwa
3. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
Contoh:
Dr. (Doktor)
Ny. (Nyonya)
S.E. (Sarjana Ekonomi)
4. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum. Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik.
Contoh:
dll. (dan lain-lain)
dsb. (dan sebagainya)
tgl. (tanggal)
Dalam karya ilmiah seperti skripsi, makalah, laporan, tesis, dan disertasi, dianjurkan tidak mempergunakan singkatan.
5. Tanda titik dibelakang huruf dalam suatu bagian ikhtisar atau daftar.
contoh:
I. Persiapan Ulangan Umum.
A. Peraturan.
B. Syarat.
Jika berupa angka, maka urutan angka itu dapat disusun sebagai berikut dan tanda titik tidak dipakai pada akhir sistem desimal.
Contoh:
1.1
1.2
1.2.1
6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
contoh: Pukul 7.10.12 (pukul 7 lewat 10 menit 12 detik)
7. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah.
contoh:
Nama Ivan terdapat pada halaman 1210 dan dicetak tebal.
Nomor Giro 033983 telah saya kasih kepada Michael.
8. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan yang terdiri dari huruf-huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya, yang terdapat di dalam nama badan pemerintah, lembaga- lembaga nasional di dalam akronomi yang sudah diterima oleh masyarakat.
contoh:
Sekjen : (Sekretaris Jenderal)
UUD : (Undang-Undang Dasar)
SMA : (Sekolah Menengah Atas)
WHO : (World Health Organization)
9. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.
contoh:
Cu (Kuprum)
52 cm
l (liter)
Rp 350,00
10. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, atau kepala ilustrasi, tabel dan sebagainya.
contoh:
Latar Belakang Pembentukan
Sistem Acara
11. Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal surat, atau nama dan alamat penerima surat.
contoh:
Jalan Kebayoran 32
Jakarta, 3 Mei 1997
Yth.Sdr.Ivan
Jalan Istana 30
Surabaya

B. Tanda Koma (,)
1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
contoh: Saya menjual baju, celana, dan topi.
contoh penggunaan yang salah: Saya membeli udang, kepiting dan ikan.
2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang berikutnya, yang didahului oleh kata seperti, tetapi, dan melainkan.
contoh: Saya bergabung dengan Wikipedia, tetapi tidak aktif.
3a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.
contoh:
Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
3b. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimat.
contoh: Saya tidak akan datang kalau hari hujan.
4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
contoh:
Oleh karena itu, kamu harus datang.
Jadi, saya tidak jadi datang.
5. Tanda koma dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.
contoh:
O, begitu.
Wah, bukan main.
6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
contoh: Kata adik, “Saya sedih sekali”.
7. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan tanggal, (ii) bagian-bagian kalimat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
contoh:
Medan, 18 Juni 1984
Medan, Indonesia.
8. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
contoh: Lanin, Ivan, 1999. Cara Penggunaan Wikipedia. Jilid 5 dan 6. Jakarta: PT Wikipedia Indonesia.
9. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
contoh: I. Gatot, Bahasa Indonesia untuk Wikipedia. (Bandung: UP Indonesia, 1990), hlm. 22.
10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
contoh: Rinto Jiang,S.E.
11. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
contoh:
33,5 m
Rp 10,50
12. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
Contoh: pengurus Wikipedia favorit saya, Borgx, pandai sekali.
13. Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
contoh: dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.
Bandingkan dengan: Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa.
14. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
contoh: “Di mana Rex tinggal?” tanya Stepheen.

C. Tanda Titik Koma (;)
1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
contoh: malam makin larut; kami belum selesai juga.
2. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
contoh: Ayah mengurus tanamannya di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur, adik menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar.

D. Tanda Titik Dua (:)
1. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
contoh:
yang kita perlukan, sekarang ialah barang-barang yang berikut: kursi, meja, dan lemari.
Fakultas itu mempunyai dua jurusan: Ekonomi Umum dan Ekonomi Perusahaan.
2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
contoh:
Ketua : Hany Christoffer
Wakil Ketua : Ricky Kurniawan Wenas
Sekretaris : Maria Dewi Puspasari
Wakil Sekretaris : Terry Rionaldy
Bendahara : Lina Veronica
Wakil bendahara : Marcel Lawinata

3. Tanda titik dua dipakai dalam teks drama kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
contoh:
Pak Erwin : “Jangan lupa perbaiki halaman bantuan Pak Guru!”
Rexy : “Ya, Pak!”
4. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, atau (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan.
contoh:
(i) Tempo, I (1971), 34:7
(ii) Surah Yasin:9
(iii) Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi sudah terbit.
5. Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
contoh: Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.

E. Tanda Hubung (-)
1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
contoh:
….dia beli ba-
ru juga.
-Suku kata yang terdiri atas satu huruf tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada ujung baris.
contoh:
…. masalah i-
tu akan diproses.
2. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata dan belakangnya, atau akhiran dengan bagian kata di depannya ada pergantian baris.
contoh:
…. cara baru meng-
ukur panas
akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.
contoh:
………mengharga-
i pendapat.
3. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
contoh: anak-anak
tanda ulang singkatan (seperti pangkat 2) hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.
4. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
contoh: p-e-n-g-u-r-u-s
5. Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan.
bandingkan:
ber-evolusi dengan be-revolusi
dua puluh lima-ribuan (20×5000) dengan dua-puluh-lima-ribuan (1×25000).
Istri-perwira yang ramah dengan istri perwira-yang ramah
PN dengan di-PN-kan.
6. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (a) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital; (b) ke- dengan angka, (c) angka dengan -an, dan (d) singkatan huruf kapital dengan imbulan atau kata.
contoh:
se-Indonesia
hadiah ke-2
tahun 50-an
ber-SMA
KTP-nya nomor 11111
bom-V2
sinar-X.
7. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Contoh:
di-charter
pen-tackle-an
Sebagai lambang matematika untuk pengurangan (tanda kurang).

F. Tanda Pisah (—)
1. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberikan penjelasan khusus di luar bangun kalimat.
contoh: Wikipedia Indonesia—saya harapkan—akan menjadi Wikipedia terbesar
Dalam pengetikan karangan ilmiah, tanda pisah dinyatakan dengan 2 tanda hubung tanpa jarak.
contoh: Medan—Ibu kota Sumut—terletak di Sumatera
2. Tanda pisah menegaskan adanya posisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih tegas.
contoh:
Rangkaian penemuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
3. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti sampai dengan atau di antara dua nama kota yang berarti ‘ke’, atau ‘sampai’.
contoh:
1919—1921
Medan—Jakarta
10—13 Desember 1999

Lihat lainnya pada Pedoman Ejaan yang Disempurnakan.

Penggunaan Angka atau Lambang Bilangan

1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Ditulis dengan angka Arab atau Romawi.
2. Angka dipakai untuk menyatakan ukuran panjang, berat, luas, isi; satuan waktu; nilai uang; dan kuantitas.
3. Angka dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
4. Angka dipakai untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
5. Penulisan lambang bilangan dengan huruf secara umum dipisahkan antar tiap bagian dan awalan “per-” (untuk pecahan) digunakan menyatu dengan bagian yang langsung mengikutinya.
6. Lambang bilangan tingkat dituliskan dengan tiga cara: angka Romawi, tanda hubung antara “ke-” dan angka, atau dirangkai jika angka dinyatakan dengan kata.
7. Lambang bilangan yang mendapat akhiran “-an” ditulis dengan tanda hubung antara angka dan “-an” atau dirangkai jika angka dinyatakan dengan kata.
8. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah.
9. Angka yang menunjukkan bilangan utuh besar dapat dieja agar mudah dibaca.
10.Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus, kecuali dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi. Jika dituliskan sekaligus, penulisan harus tepat.
11.Tanda hubung “ke-” tidak disambung pada bilangan yang menyatakan jumlah. Misalnya: Keempat anak tersebut sedang bersenang-senang.
contoh:
Jika ditulis dengan angka Arab, bilangan ditulis dengan diawali ke-. Jika ditulis dengan angka Romawi, bilangan ditulis sendirian.
Benar: abad kesebelas, abad ke-11, abad XI
Salah: abad ke sebelas, abad ke 11, abad ke-XI, abad 11
Penulisan tahun
Benar: 1960-an
Salah: 1960an

Singkatan dan Akronim

1. Singkatan adalah bentuk yang dipendekkan yang terdiri dari satu huruf atau lebih.
a. Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan/organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.
c. Singkatan umum yang terdiri dari tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Tetapi, singkatan umum yang terdiri hanya dari dua huruf diberi tanda titik setelah masing-masing huruf.
d. Lambang kimia, singkatan satuan ukur, takaran, timbangan, dan mata uang asing tidak diikuti tanda titik.
2. Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, suku kata, ataupun huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital.
c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun huruf dan suku kata dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kecil.

Penulisan gelar yang sering salah
DR, Dr, atau dr? Untuk doktor (S3) dan dokter (ahli penyakit)
1. Doktor (S3)
DR. SYAFARUDIN, bukan Dr. SYAFARUDIN, tetapi
Dr. Syafarudin, bukan DR. Syafarudin.
2. Dokter (ahli penyakit)
Dr. SOEMANTRI, bukan dr. SOEMANTRI, tetapi
dr. Soemantri, bukan Dr. Soemantri
Sering ditanyakan, bagaimana menuliskan gelar ini di awal kalimat. Hal ini adalah masalah tata kalimat. Hindari penulisan singkatan (termasuk gelar) di awal kalimat.

Penulisan kata

Berikut adalah ringkasan pedoman umum penulisan kata.
1. Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: Ibu percaya bahwa engkau tahu.
2. Kata turunan (lihat pula penjabaran di bagian Kata turunan)
3. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasar. Contoh: bergeletar, dikelola [1].
4. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: bertepuk tangan, garis bawahi
5. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan ditulis serangkai. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: menggarisbawahi, dilipatgandakan.
6. Jika salah satu unsur gabungan hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata ditulis serangkai. Contoh: adipati, mancanegara.
7. Jika kata dasar huruf awalnya adalah huruf kapital, diselipkan tanda hubung. Contoh: non-Indonesia.
9. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah. Contoh: duta besar, orang tua, ibu kota, sepak bola.
10.Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian. Contoh: alat pandang-dengar, anak-istri saya.
11.Beberapa gabungan kata yang sudah lazim dapat ditulis serangkai. Lihat bagian Gabungan kata yang ditulis serangkai.
12.Kata ganti (kau-, ku-, -ku, -mu, -nya) ditulis serangkai. Contoh: kumiliki, kauambil, bukumu, miliknya.
13.Kata depan atau preposisi (di [1], ke, dari) ditulis terpisah, kecuali yang sudah lazim seperti kepada, daripada, keluar, kemari, dll. Contoh: di dalam, ke tengah, dari Surabaya.
14.Artikel si dan sang ditulis terpisah. Contoh: Sang harimau marah kepada si kancil.
15.Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai. Contoh: bacalah, siapakah, apatah.
16.Partikel -pun ditulis terpisah, kecuali yang lazim dianggap padu seperti adapun, bagaimanapun, dll. Contoh: apa pun, satu kali pun.
17.Partikel per- yang berarti “mulai”, “demi”, dan “tiap” ditulis terpisah. Contoh: per 1 April, per helai.

Konsensus penggunaan kata

Tiongkok dan Tionghoa
Cina adalah bentuk dan penggunaan baku menurut KBBI. Ada himbauan untuk menghindari kata ini atas pertimbangan kesensitifan penafsiran. Sebagai alternatifnya diusulkan menggunakan kata China. Ini sebuah argumen yang tidak bisa didiskripsikan dan dijelaskan secara ilmiah bahasa, apalagi bunyi ujaran China – Cina adalah hampir sama (China dibaca dengan ejaan Inggris). Padanan untuk kata Cina yaitu Tiongkok (negara), Tionghoa (bahasa dan orang).
Mayat dan mati
mati: hindari penggunaannya dalam penulisan biografi. Gunakan kata wafat, meninggal, gugur, atau tewas (tergantung konteks).
mayat: hindari penggunaannya dalam biografi. Gunakan kata jasad atau jenazah.
Penggunaan “di mana” sebagai penghubung dua klausa
Untuk menghubungkan dua klausa tidak sederajat, bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk “di mana” (padanan dalam bahasa Inggris adalah “who”, “whom”, “which”, atau “where”) atau variasinya (“dalam mana”, dengan mana”, dan sebagainya). Penggunaan “di mana” sebagai kata penghubung sangat sering terjadi pada penerjemahan naskah dari bahasa-bahasa Indo-Eropa ke bahasa Indonesia. Pada dasarnya, bahasa Indonesia hanya mengenal kata “yang” sebagai kata penghubung untuk kepentingan itu dan penggunaannya pun terbatas. Dengan demikian, HINDARI PENGGUNAAN BENTUK “DI MANA”, apalagi “dimana”, termasuk dalam penulisan keterangan rumus matematika. Sebenarnya selalu dapat dicari struktur yang sesuai dengan kaidah tata bahasa Indonesia.

contoh-contoh:
(1) Dari artikel Kantin: … kantine adalah sebuah ruangan dalam sebuah gedung umum di mana para pengunjung dapat makan … .
Usul perbaikan: … kantine adalah sebuah ruangan di dalam sebuah gedung umum yang dapat digunakan (oleh) pengunjungnya untuk makan … .
(2) Dari artikel Tegangan permukaan: Tegangan permukaan = F / L dimana :
F = gaya (newton)
L = panjang m).[sic]
Usul perbaikan: Apabila F = gaya (newton) dan L = panjang (m), tegangan permukaan S dapat ditulis sebagai S = F / L.
Di sini tampak bahwa “apabila” menggantikan posisi “di mana” (ditulis di kalimat asli sebagai “dimana”).
(3) Dari kalimat bahasa Inggris: Land which is to be planted only with rice … .
Usul terjemahan: Lahan yang akan ditanami padi saja … .
Contoh-contoh lain silakan ditambahkan.
[sunting] Kata penghubung “sedangkan”
Kesalahan penggunaan kata penghubung yang juga sering kali terjadi adalah yang melibatkan kata “sedangkan”. “Sedangkan” adalah kata penghubung dua klausa berderajat sama, sama seperti “dan”, “atau”, serta “sementara”. Dengan demikian secara tata bahasa ia TIDAK PERNAH bisa mengawali suatu kalimat (tentu saja lain halnya dalam susastra!). Namun justru di sini sering terjadi kesalahan dalam penggunaannya. “Sedangkan” digunakan untuk mengawali kalimat, padahal untuk posisi itu dapat dipakai kata “sementara itu”.
Contoh: Dari harian Jawa Pos:
“Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini, 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap). Sedangkan jumlah total TPS se-Banten ada 12.849.”
Usulan perbaikan 1:
“Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini ada 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap) sedangkan jumlah total TPS se-Banten ada 12.849.”
Usulan perbaikan 2:
“Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini ada 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap). Sementara itu, jumlah total TPS se-Banten ada 12.849.”

Contoh gabungan kata yang ditulis serangkai:
acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah, astagfirullah, bagaimana, barangkali, bilamana, bismillah, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, darmasiswa, dukacita, halalbihalal, hulubalang, kacamata, kasatmata, kepada, keratabasa, kilometer, manakala, manasuka, mangkubumi, matahari, olahraga, padahal, paramasastra, peribahasa, puspawarna, radioaktif, sastramarga, saputangan, saripati, sebagaimana, sediakala, segitiga, sekalipun, silaturahmi, sukacita, sukarela, sukaria, syahbandar, titimangsa, dan wasalam.

Kata yang sering salah dieja
Daftar ini disusun menurut urutan abjad. Kata pertama adalah kata baku menurut KBBI (kecuali ada keterangan lain) dan dianjurkan digunakan, sedangkan kata-kata selanjutnya adalah variasi ejaan lain yang kadang-kadang juga digunakan.
aktif, aktip
aktivitas, aktifitas
al Quran, alquran
analisis, analisa
Anda, anda
apotek, apotik (ingat: apoteker, bukan apotiker)
asas, azas
atlet, atlit (ingat: atletik, bukan atlitik)
bus, bis
besok, esok
diagnosis, diagnosa
ekstrem, ekstrim
embus, hembus
Februari, Pebruari
frekuensi, frekwensi
foto, Photo
gladi, geladi
hierarki, hirarki
hipnosis (nomina), menghipnosis (verba), hipnotis (adjektiva)
ibu kota, ibukota
ijazah, ijasah
imbau, himbau
indera, indra
indragiri, inderagiri
istri, isteri
izin, ijin
jadwal, jadual
jenderal, jendral
Jumat, Jum’at
kanker, kangker
karier, karir
Katolik, Katholik
kendaraan, kenderaan
komoditi, komoditas
komplet, komplit
konkret, konkrit, kongkrit
kosa kata, kosakata
kualitas, kwalitas, kwalitet
kuantitas, kwantitas
kuitansi, kwitansi
kuno, kuna
lokakarya, loka karya
maaf, ma’af
makhluk, mahluk, mahkluk (salah satu yang paling sering salah)
mazhab, mahzab
metode, metoda
mungkir, pungkir (Ingat!)
nakhoda, nahkoda, nakoda
narasumber, nara sumber (berlaku juga untuk kata belakang lain)
nasihat, nasehat
negatif, negatip (juga kata-kata lainnya yang serupa)
November, Nopember
objek, obyek
objektif, obyektif/p
olahraga, olah raga
orang tua, orangtua
paham, faham
persen, prosen
pelepasan, penglepasan
penglihatan, pelihatan; pengecualian
permukiman, pemukiman
perumahan, pengrumahan; baik untuk arti housing maupun PHK
pikir, fikir
Prancis, Perancis
praktik, praktek (Ingat: praktikum, bukan praktekum)
provinsi, propinsi
putra, putera
putri, puteri
realitas, realita
risiko, resiko
saksama, seksama (Ingat!)
samudra, samudera
sangsi (=ragu-ragu), sanksi (=konsekuensi atas perilaku yang tidak benar, salah)
saraf, syaraf
sarat (=penuh), syarat (=kondisi yang harus dipenuhi)
sekretaris, sekertaris
sekuriti, sekuritas [2]
segitiga, segi tiga
selebritas, selebriti
sepak bola, sepakbola
silakan, silahkan (Ingat!)
sintesis, sintesa
sistem, sistim
sorga, surga, syurga
subjek, subyek
subjektif, subyektif/p
Sumatra, Sumatera
standar, standard
standardisasi, standarisasi [5]
tanda tangan, tandatangan
tahta, takhta
teknik, tehnik
telepon, tel(f/p)on, telefon, tilpon
teoretis, teoritis (diserap dari: theoretical)
terampil, trampil
ubah (=mengganti), rubah (=serigala) — sepertinya kedua-duanya berlaku
utang, hutang (Ingat: piutang, bukan pihutang)
wali kota, walikota
Yogyakarta, Jogjakarta
zaman, jaman

Bahasa Serapan

Bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah di Indonesia maupun dari bahasa asing seperti Inggris, Belanda, Arab, dan Sanskerta. Unsur pinjaman tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar: unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap, serta unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.

Penyesuaian ejaan

Tanpa perubahan

ae jika tidak bervariasi dengan e. Contoh: aerobe → aerob.
ai
au
e
ea
ei
eo
eu
f
i jika di awal suku kata di muka vokal. Contoh: ion → ion.
ie jika lafalnya bukan i. Contoh: variety → varietas.
kh (Arab)
ng
ps
pt
u
ua
ue
ui
uo
v
x, jika di awal kata. Contoh: xenon → xenon.
y, jika lafalnya y. Contoh: yen → yen.
z.

Dengan perubahan

aa (Belanda) → a. Contoh: octaaf → oktaf.
ae → e, jika bervariasi dengan e. Contoh: haemoglobin → hemoglobin.
c → k, jika di muka a, u, o, dan konsonan. Contoh: crystal → kristal.
c → s, jika di muka e, i, oe, dan y. Contoh: cylinder → silinder.
cc → k, jika di muka o, u, dan konsonan. Contoh: accumulation → akumulasi.
cc → ks, jika di muka e dan i. Contoh: accent → aksen.
ch dan cch → k, jika di muka a, o, dan konsonan. Contoh: saccharin → sakarin.
ch → s, jika lafalnya s atau sy. Contoh: machine → mesin.
ch → c, jika lafalnya c. Contoh: check → cek.
ç[1] (Sansekerta) → s. Contoh: çāstra → sastra.
ee (Belanda) → e. Contoh: systeem → sistem.
gh → g. Contoh: sorghum → sorgum.
gue → ge
ie (Belanda) → i, jika lafalnya i. Contoh: politiek → politik.
oe (oi Yunani) → e
oo (Belanda) → o. Contoh: komfoor → kompor.
oo (Inggris) → u. Contoh: cartoon → kartun.
oo (vokal ganda) tetap. Contoh: zoology → zoologi.
ph → f. Contoh: phase → fase.
q → k
rh → r. Contoh: rhetoric → retorika.
sc → sk, jika di muka a, o, u, dan konsonan. Contoh: scriptie → skripsi.
sc → s, jika di muka e, i, dan y. Contoh: scenography → senografi.
sch → sk, jika di muka vokal. Contoh: schema → skema.
t → s, jika di muka i. Contoh: ratio → rasio.
th → t. Contoh: methode → metode.
uu → u. Contoh: vacuum → vakum.
v (Sanskerta) → w atau v
x → ks, jika tidak di awal kata. Contoh: exception → eksepsi.
xc → ksk, jika di muka a, o, u, dan konsonan. Contoh: excavation → ekskavasi.
y → i, jika lafalnya i. Contoh: dynamo → dinamo.
konsonan ganda menjadi konsonan tunggal, kecuali jika dapat membingungkan. Contoh: effect → efek, mass → massa.

Penyesuaian akhiran

Tanpa perubahan
-anda, -andum, -endum
-ar
-ase, -ose
-ein
-ein. Contoh: protein → protein.
-et
-or. Contoh: dictator → diktator.
-ot

Dengan perubahan

-(a)tion, -(a)tie (Belanda) → -(a)si. Contoh: action, actie → aksi.
-aat (Belanda) → -at. Contoh: plaat → pelat.
-able, -ble → -bel
-ac → -ak
-acy, -cy → -asi, -si
-age → -ase. Contoh: percentage → persentase.
-air → -er
-al, -eel (Belanda), -aal (Belanda) → -al. Contoh: formeel → formal.
-ance, -ence → -ans, -ens (yang bervariasi dengan -ancy, -ency)
-ancy, -ency → -ansi, -ensi (yang bervariasi dengan -ance, -ence)
-ant → -an. Contoh: accountant → akuntan.
-archy, -archie (Belanda) → -arki. Contoh: anarchy, anarchie → anarki.
-ary, -air (Belanda) → -er. Contoh: primary, primair → primer.
-asm → -asme
-ate → -at
-eel (Belanda) → -el, jika tak ada padanan dalam bahasa Inggris.
-end → -en
-ete, -ette → -et
-eur (Belanda), -or → -ur, -ir. Contoh: director, directeur → direktur.
-eus (Belanda) → -us
-ic, -ique → -ik
-icle → -ikel
-ics, -ica → -ik, -ika. Contoh: logic, logica → logika.
-id, -ide → -ida
-ief, -ive → -if. Contoh: descriptive, descriptief → deskriptif.
-iel, -ile, -le → -il. Contoh: percentile → persentil.
-ific → -ifik
-isch, -ic → -ik. Contoh: elektronic → elektronik
-isch, -ical → -is. Contoh: optimistisch, optimistical → optimistis
-ism, -isme (Belanda) → -isme. Contoh: modernism, modernisme → modernisme.
-ist → -is. Contoh: egoist → egois.
-ite → -it
-ity → -itas
-logue → -log. Contoh: dialogue → dialog.
-logy, -logie → -logi. Contoh: analogy, analogie → analogi.
-loog (Belanda) → -log. Contoh: epiloog → epilog.
-oid, -oïde (Belanda) → -oid. Contoh: hominoid, hominoide → hominoid.
-oir(e) → -oar. Contoh: trottoir → trotoar.
-ous ditanggalkan
-sion, -tion → -si
-sy → -si
-ter, -tre → -ter
-ty, -teit → -tas [2]. Contoh: university, universiteit → universitas.
-ure, -uur → -ur. Contoh: premature, prematuur → prematur.

Penyesuaian awalan

Tanpa perubahan

a-, ab-, abs- (“dari”, “menyimpang dari”, “menjauhkan dari”)
a-, an- (“tidak”, “bukan”, “tanpa”)[3]
am-, amb- (“sekeliling”, “keduanya”)
ana-, an- (“ke atas”, “ke belakang”, “terbalik”)
ante- (“sebelum”, “depan”) [4]
anti-, ant- (“bertentangan dengan”)
apo- (“lepas”, “terpisah”, “berhubungan dengan”)
aut-, auto- (“sendiri”, “bertindak sendiri”)[5]
bi- (“pada kedua sisi”, “dua”)[6]
de- (“memindahkan”, “mengurangi”)
di- (“dua kali”, “mengandung dua …”)
dia- (“melalui”, “melintas”)
dis- (“ketiadaan”, “tidak”)
em-, en- (“dalam”, “di dalam”)
endo- (“di dalam”)
epi- (“di atas”, “sesudah”)
hemi- (“separuh”, “setengah”)
hemo- (“darah”)
hepta- (“tujuh”, “mengandung tujuh”) [7]
hetero- (“lain”, “berada”)
im-, in- (“tidak”, “di dalam”, “ke dalam”)
infra- (“bawah”, “di bawah”, “di dalam”)
inter- (“antara”, “saling”)[8]
intro- (“dalam”, “ke dalam”)
iso- (“sama”)
meta- (“sesudah”, “berubah”, “perubahan”)
mono- (“tunggal”, “mengandung satu”)[9]
pan-, pant-, panto (“semua”, “keseluruhan”)
para- (“di samping”, “erat berhubungan dengan”, “hampir”)
penta- (“lima”, “mengandung lima”)[10]
peri- (“sekeliling”, “dekat”, “melingkupi”)
pre-(“sebelum”, “sebelumnya”, “di muka”)[11]
pro- (“sebelum”, “di depan”)
proto- (“pertama”, “mula-mula”)
pseudo-, pseud- (“palsu”)
re- (“lagi”, “kembali”)[12]
retro- (“ke belakang”, “terletak di belakang”)
semi- (“separuhnya”, “sedikit banyak”)
sub-[13](“bawah”, “di bawah”, “agak”, “hampir”)
super-, sur- (“lebih dari”, “berada di atas”)
supra- (“unggul”, “melebihi”)
tele- (“jauh”, “melewati”, “jarak”)
trans- (“ke/di seberang”, “lewat”, “mengalihkan”)
tri- (“tiga”)
ultra- (“melebihi”, “super”)
uni- (“satu”, “tunggal”)
[sunting] Dengan perubahan
ad-, ac- → ad-, ak- (“ke”, “berdekatan dengan”, “melekat pada”)
cata- → kata- (“bawah”, “sesuai dengan”)
co-, com-, con- → ko-, kom-, kon- (“dengan”, “bersama-sama”, “berhubungan dengan”)
contra- → kontra- (“menentang”, “berlawanan”)
ec-, eco- → ek-, eko- (“lingkungan hidup”)
ex- → eks- (“sebelah luar”, “mengeluarkan”)
exo-, ex- → ekso-, eks- (“di luar”)
extra- → ekstra- (“di luar”)
hexa- → heksa- (“enam”, “mengandung enam”)
hyper- → hiper- (“di atas”, “lewat”, “super”)
hypo- → hipo- (“bawah”, “di bawah”)
poly- → poli- (“banyak”, “berkelebihan”)
quasi- → kuasi- (“seolah-olah”, “kira-kira”)
syn- → sin- (“dengan”, “bersama-sama”, “pada waktu”)

Penyerapan dengan penerjemahan

a- → tak-. Contoh: asymetric → tak simetri
ante- → purba-. Contoh: antedate → purbatanggal
anti- → prati-. Contoh: antibiotics → pratirasa
auto- → swa-. Contoh: autobiography → swariwayat
de- → awa-. Contoh: demultiplexing → awa-pemultipleksan
bi- → dwi-, bi-. Contoh: bilingual → dwibahasa
inter- → antar-, inter-. Contoh: international → antarbangsa
mal- → mal-, mala-. Contoh: malnutrition → malagizi, malnutrisi
post- → pasca-. Contoh: postgraduate → pascasarjana
→ purna-. Contoh: purnawirawan
pre- → pra-. Contoh: prehistory → prasejarah
re- → -ulang. Contoh: recalculate → hitung ulang
-ble → laik-. Contoh: edible → laik-santap
-like → lir-, bak-. Contoh: jelly-like → liragar
-less → nir-, awa-, mala-, tan-. Contoh: seedless → nirbiji; colourless → awawarna, tanwarna

Aturan penyerapan imbuhan

1. Aturan-aturan imbuhan serapan dari bahasa asing mengikuti aturan yang kurang lebih sama dengan aturan pembentukan kata berimbuhan lain.
2. Disambung jika menggunakan kata dasar. Contoh: dwiwarna, pascasarjana.
3. Dipisah jika menggunakan kata bentukan atau turunan. Contoh: pra pemilu.
4. Diberi tanda hubung jika kata dasar berawalan huruf kapital. Contoh: non-Indonesia, anti-Israel.

Catatan kaki

1 Dalam penulisan modern biasa dieja sebagai ś
2 Tidak semua akhiran -ty bahasa Inggris dialih-bahasakan menjadi -tas walaupun tak dimungkiri bahwa mayoritasnya demikian, dalam hal ini berlaku kata-kata seperti sekuriti dan komoditi yang menggunakan sistem kedua (-ti bukan -tas), hal yang sama berlaku pada kata properti (bukan propertas). Kata-kata lainnya misalnya kuantitas memang menggunakan penerjemahan -tas.
3 sering diterjemahkan dengan awalan tak-, Contoh: takpadan (asimetri)
4 sering diterjemahkan dengan awalan purba-, Contoh: purbatanggal (antedate)
5 sering diterjemahkan dengan awalan swa-, Contoh: swadidik (autodidak)
6 sering diterjemahkan dengan awalan dwi-, Contoh: dwibahasa (bilingual)
7 sering diterjemahkan dengan awalan sapta-, Contoh: saptamarga
8 sering diterjemahkan dengan awalan antar-, Contoh: antarnegara (internasional), antarbagian (interseksi)
9 sering diterjemahkan dengan awalan eka-, Contoh: ekatuhan (monoteis)
10 sering diterjemahkan dengan awalan panca-, Contoh: pancasila
11 sering diterjemahkan dengan awalan pra-, Contoh: pratayang, prasangka, praduga
12 sering diterjemahkan dengan awalan ulang-, Contoh: ulangsusun, ulangbuat
13 sering diterjemahkan dengan awalan anak-, Contoh: anakjenis, anakbenua

Penamaan artikel

Nama-nama geografis

Coba berikan padanan nama-nama geografis dalam bahasa Indonesia dari tempat-tempat di luar negeri apabila ada. Apabila tidak ada, tolong berikan nama tersebut dalam bahasa setempat, hindarkan pemberian nama dalam bahasa Inggris, namun tentu saja nama Inggris bisa disebut di dalam artikel. Nama dalam bahasa Inggris bisa pula dipakai sebagai nama halaman redireksi. Tetapi jika bahasa setempat tidak ditulis menggunakan huruf Latin, nama dalam bahasa Inggris bisa dipertimbangkan. Khusus mengenai nama-nama geografis di Jawa, ejaan resmi dalam bahasa Indonesia dipakai, meski ini sering tidak konsisten dan konsekuen. Kadangkala fonem /a/ pada posisi akhir terbuka dieja sesuka hati sebagai [o] atau [a].

Contoh:

Nama-nama tempat asing
Antwerpen dan bukan Antwerp (bahasa Inggris).
Moskwa dan bukan Moscow (bahasa Inggris).
Perancis dan bukan Prancis (berdasarkan kesepakatan).
Singapura dan bukan Singapore (bahasa Inggris).
Wina dan bukan Wien (bahasa Jerman) apalagi Vienna (bahasa Inggris).
Yerusalem dan bukan Jerusalem (bahasa Inggris).

Nama-nama tempat di Jawa
Surabaya dan bukan Suroboyo.
Wonogiri dan bukan Wanagiri.
Surakarta atau Solo, atau Sala dan bukan Surokarto.
Purwakarta dan bukan Purwokarto di Jawa Barat.
Purwokerto dan bukan Purwakerta di Jawa Tengah.

Nama-nama tempat yang sering dipakai di Indonesia
Kabupaten dan Kota. Untuk kabupaten dan kota di Indonesia, penamaan artikelnya memakai format “Kabupaten AA” dan “Kota AA”, contoh: Kabupaten Aceh Besar dan Kota Lhokseumawe, jadi bukan “Aceh Besar” dan “Lhokseumawe”. Ini berlaku walaupun nama tersebut hanya memiliki satu kegunaan. Pada contoh diatas Aceh Besar diberi nama Kabupaten Aceh Besar walaupaun tidak ada Kota Aceh Besar.
Kecamatan. Untuk nama kecamatan menggunakan pola “nama kecamatan, nama kabupaten atau kota” seperti Ciawi, Bogor dan Ciawi, Tasikmalaya bukan Kecamatan Ciawi karena nama kecamatan yang sama bisa terdapat di kabupaten yang lain.
Kelurahan/desa. Untuk nama kelurahan menggunakan pola “nama kelurahan, nama kecamatan, nama kabupaten atau kota” seperti Seutui, Baiturrahman, Banda Aceh dan bukan Seutui atau Kelurahan Seutui atau Seutui, Baiturrahman.
Pulau, Sungai, Danau, Pulau, Suku, Air terjun, Tanjung, Selat, Teluk. Mengikuti pola “Pulau AA”, “Sungai Mahakam” dan sebagainya. Contohnya: Pulau Simeulue dan bukan Simeulue. (terkecuali untuk Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan tidak memakai awalan pulau karena lebih populer)
Untuk nama-nama tempat di Indonesia yang memiliki banyak kegunaan, maka artikel dengan nama itu menjadi halaman disambiguasi. Contohnya: “Blitar” karena memiliki banyak arti, maka artikel “Blitar” menjadi halaman disambiguasi yang mengandung pranala ke Kota Blitar dan Kabupaten Blitar.

Nama-nama tokoh
Nama-nama tokoh dalam bahasa Indonesia, dieja sesuai ejaan asli meskipun bertentangan dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Nama-nama tokoh asing juga sesuai ejaan dalam bahasa aslinya, hindarkan penggunaan ejaan bahasa Inggris. Namun apabila bahasa asli tidak ditulis menggunakan huruf Latin, ejaan dalam bahasa Inggris bisa dipertimbangkan. Hindarkan penggunaan nama-nama Latin atau Yunani dengan ejaan bahasa Inggris. Untuk nama-nama tokoh Tionghoa gunakan ejaan yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Apabila tidak ada coba gunakan ejaan Pinyin dan hindari ejaan Inggris berdasarkan Wade-Giles, meski ejaan terakhir ini kadangkala secara fonetis lebih tepat.
Pedoman penggunaan ejaan untuk nama tokoh Indonesia adalah sebagai berikut:
Kelahiran sebelum tahun 1947, gunakan Ejaan Van Ophuijsen (gunakan oe untuk u, tj untuk c, dj untuk j, dan j untuk y).
Kelahiran antara 1947 dan sebelum 1972, gunakan Ejaan Republik (gunakan tj untuk c, dj untuk j, dan j untuk y).
Kelahiran pada dan setelah 1972, gunakan Ejaan Yang Disempurnakan.
Jika ragu, atau tanggal kelahiran tokoh tidak tersedia, gunakan Ejaan Yang Disempurnakan.
Nama-nama tokoh sebaiknya ditulis secara lengkap berikut nama depan dan nama belakang, kecuali tokoh tidak memiliki nama depan secara resmi atau nama merupakan nama julukan.
Contoh:
Aristoteles dan bukan Aristotle.
Bill Clinton dan bukan William Jefferson Clinton
Boris Yeltsin dan bukan Yeltsin.
Jeanne d’Arc dan bukan Joan of Arc.
Kong Hu Cu dan bukan Kung Fu-tse
Lenin bisa dipergunakan seiring dengan Vladimir Lenin.
Mao Zedong dan bukan Mao Tse-tung.
Ptolemeus dan bukan Ptolemy.
Soeharto dan bukan Suharto.
Soekarno dan bukan Sukarno.
H.O.S. Tjokroaminoto dan bukan H.O.S. Cokroaminoto.
Penggunaan gelar
Gelar-gelar kebangsawanan dan akademis jangan dipakai sebagai judul artikel meskipun harus disebut dalam artikel sendiri.
Contoh:
Hamengkubuwono IX dan bukan Sultan Hamengkubuwono IX atau Sri Hamengkubuwono IX
Kartini dan bukan R.A. Kartini atau Raden Adjeng Kartini atau Raden Ajoe Kartini
Jusuf Kalla dan bukan Drs. Jusuf Kalla
Beberapa gelar lainnya yang juga harus dihindari antara lain: GPH (Gusti Pangeran Haryo), KGPH (Kanjeng Gusti Pangeran Haryo), GBPH (Gusti Bendoro Pangeran Haryo) dan lain-lain. (lihat gelar kebangsawanan). (E.T.)


© 2014 ..:::PELAJARAN BAHASA INDONESIA UNTUK SMP:::...
WordPress Theme & Icons by N.Design Studio. Provided by WPMU DEV -The WordPress Experts   Hosted by Edublogs
Entries RSS Comments RSS Log in